Becak Yogyakarta yang Selalu Dirindu

“Becak, becak coba bawa saya…” Sekilas lagi lagu anak-anak berjudul Hai Becak ciptaan Ibu Soed terngiang kembali di kepala saya. Padahal sejak lama seolah lupa dengan lagu kenangan masa kanak dulu. Bagaimana tidak, saat turun dari Stasiun Tugu, Yogyakarta, disambut hangat oleh para tukang becak. “Becak mbak becak! Becak yo!” ucap mereka mengerubuti saya.

Sepanjang jalan menuju hotel melewati Malioboro kembali deretan becak menyelimuti pandangan mata. Para tukang becak ini ada yang ngipas-ngipas topi tanda kepanasan, mengisap rokok tradisional yang beraroma cengkeh, berbincang dengan sesama, dan tidak sedikit juga yang tidur di bangku becaknya. Rasanya tidak perlu sampai ke tempat wisata, pemandangan becak–becak ini saja sudah membuat bahagia. Pemandangan ini tidak akan didapat di kota–kota besar macam Jakarta yang sudah sesak dengan kepulan asap debu dan penghuninya yang sibuk bekerja.

Sepuluh tahun tahun lalu dan sekarang, becak di Yogyakarta tak ada bedanya. Hanya saja sekarang ada sebagian becak yang dipasang mesin motor. “Buat kami yang sudah tua biasanya dipasang mesin. Kalau ngayuh kaki kan ya sudah berat,” ujar Turino, yang sudah hampir 30 tahunan mencari nafkah sebagai tukang becak. Sekarang usia Turino sudah masuk kepala 5. Usia yang tidak muda lagi untuk mengayuh becak setiap harinya. “Banyak juga kok anak muda yang jadi tukang becak. Yang penting halal,” ucapnya.

Turino mampu menghidupi 3 orang anak dan istrinya dari penghasilan sebagai tukang becak. “Nggak tentu Mbak. Kalau lagi ramai, bisa sampai Rp 100.000. Kalau sepi, kayak pas Kelud kemarin (Gunung Kelud meletus), Rp 30.000 sampai Rp 50.000 aja Alhamdulillah,” ujarnya.

Turino dan para tukang becak lainnya harus bersaing harga dengan tukang ojek motor dan taksi. “Nggak berani mahal. Paling Rp 10.000 sampai Rp 20.000 aja sekali jalan. Nanti kalau harganya sama taksi, pada milih taksi jadinya nanti,” kata Turino.

Di beberapa negara Asia lainnya, transportasi tradisional sejenis becak memang masih menjadi andalan. Bukan hanya bagi para turis tapi juga bagi penduduk lokal. Di kawasan Indochina dikenal namanya tuktuk. Bentuknya seperti bentor atau becak bermotor. Motor di depan dan tempat penumpangnya di belakang. Tuktuk di kawasan Indochina lebih berwarna dan lebih besar dibanding bentor dan becak. Jadi penumpang juga merasa lebih nyaman.

Di Thailand tak jarang tuktuk dihias berwarna warni dengan ornamen hiasan yang unik. Tuktuk juga jadi transportasi andalan bagi penduduk lokal dan para turis untuk menembus jalanan yang macet di Bangkok, ibukota Thailand. Di kota kecilnya, jumlah tuktuk lebih banyak dibanding taksi.

Tuktuk di Kamboja dijadikan salah satu atraksi untuk menarik minat turis. Para sopir tuktuk diberi pengetahuan seputar turisme di negaranya. Rata-rata sopirnya bisa berbahasa Inggris. Tak heran mereka menjadi sangat ramah dan menjadi sahabat para turis. Bentuknya pun unik, bisa dibilang bak kereta kencana. Bayangkan menjadi pangeran dan putri raja naik tuktuk sambil menikmati semilir angin udara Kamboja.

Jika ke Kamboja, para turis biasa menyewa tuktuk berkeliling kota. Harganya pun bersahabat, termasuk untuk kantung turis Asia. Sehari bisa ke 6-7 tempat harga sewanya sekitar 12-15 dollar AS atau setara dengan Rp 125.000 – Rp 160.000. Satu tuktuk bisa muat 4 orang. Jadi kalau patungan bisa menghemat biaya.

Tuktuk dan becak bisa jadi ketinggalan zaman tapi rasa nikmat menaikinya tak lekang dimakan waktu. Seperti lirik lagu Yogyakarta yang dilantunkan KLA Project, “Ada setangkup haru, dalam rindu…”

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s