Harmoni Indonesia di Vatikan

VATIKAN, negara seluas 44 hektar, menjadi magnet warga dunia. Setiap hari sekitar 25.000 wisatawan mengunjungi negara kota itu. Salah satu lokasi favorit adalah Museum Vatikan. Sejak 13 Februari hingga akhir September 2014, Indonesia menggelar pameran di museum itu.

Pertengahan Februari lalu, sekitar pukul 17.00 waktu Vatikan, sekitar 300 orang berkumpul di Museum Etnologi Vatikan. Mereka bukan hanya masyarakat Indonesia, melainkan juga para indonesianis yang ingin menyaksikan pembukaan pameran kebudayaan Indonesia di museum itu.

Datang Presiden Vatikan City Kardinal Giuseppe Bertello didampingi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, Duta Besar Indonesia untuk Vatikan Budiarman Bahar, dan Direktur Museum Vatikan Antonio Paolucci. Presiden Vatikan City pun memukul gong tanda pameran itu dibuka.

Saat itu dipentaskan tarian Gending Sriwijaya dan Siwa Kandela dari Sumatera Selatan. Kedua tarian yang ditampilkan Artina Production itu menggambarkan harmoni budaya, kejayaan, dan keagungan Kerajaan Sriwijaya.

Bagi Kardinal Bertello, Indonesia termasuk negara yang unik: memiliki ribuan suku dengan tradisi budaya dan bahasa yang beragam. Vatikan, menurut dia, terus mendorong dialog antarkebudayaan di dunia. Bahkan, Vatikan berpandangan, dialog antariman tidak akan berhasil tanpa dialog kebudayaan. Itu sebabnya, Vatikan mengizinkan Indonesia menggelar pemeran kebudayaan di Museum Etnologi hingga akhir tahun 2014.

Tempat pameran itu seluas 400 meter persegi yang berada persis di area terdepan dari museum tersebut. Di pintu masuk terpasang dekorasi payung khas Bali dilengkapi tulisan ”Indonesia, Land of Harmony”.

”Saya memang belum pernah ke Indonesia, tetapi dari teman-teman, dan literatur, saya mendapat banyak informasi tentang Indonesia. Kami memberi respek dan menaruh hormat yang tinggi atas keharmonisan dalam kemajemukan masyarakat Indonesia. Tidak mudah mengelola masyarakat dengan keberagaman yang begitu besar. Namun, Indonesia membuktikannya. Ini menjadi contoh yang baik bagi masyarakat dunia,” kata Giuseppe Bertello.

Replika Borobudur

Dalam pameran ini ditampilkan 191 jenis artefak Indonesia. Itu dikelompokkan dalam tiga jenis, yakni karya seni, keindahan alam, dan kebudayaan. Misalnya, replika Candi Borobudur yang dicetak tahun 1970, dari mal yang dibuat dan dibawa dua warga Belanda ke Vatikan pada tahun 1920. Ada pula ukiran kayu karya pemahat suku Asmat di Papua serta foto-foto dan lukisan tentang rumah adat masyarakat Batak Toba, rumah adat Minang, Tanah Toraja, foto tradisi Galungan dan Ngaben di Bali, tradisi menenun, membatik di Jawa, Danau Toba, tradisi lebaran, dan lainnya.

”Artefak etnologi tidak hanya penting sebagai benda seni bersejarah, tapi juga telah menjadi simbol harmoni pluralitas masyarakat Indonesia. Sikap saling menghargai dan menghormati yang berkembang selama ini dalam masyarakat Indonesia menjadi bagian terpenting dari promosi perdamaian,” ujar kurator Museum Etnologi Vatikan Nicola Mapelli.

Museum Vatikan termasuk salah satu museum tertua dan terbaik di dunia. Dibangun sejak awal abad ke-16 oleh Paus Julius II, museum adalah kumpulan belasan museum yang menyimpan aneka benda seni dan bersejarah sejak zaman Romawi Kuno. Museum-museum tersebut antara lain Museum Filateli dan Numismatik, Museum Kristiani, Museum Etnologi, Galeri Peta, Galeri Kalender, dan Kapel Sistina yang menjadi tempat pemilihan paus baru.

Hingga kini baru enam negara yang mendapat kesempatan menggelar pameran di Museum Vatikan. Salah satu adalah Indonesia. ”Kita sungguh beruntung diberi kesempatan menggelar pameran dalam museum terbaik di dunia dengan pengunjung ribuan orang per hari. Melalui pameran ini, pengunjung mulai mengenal Indonesia, lalu tumbuh persepsi, serta ketertarikan mereka untuk mengunjungi Indonesia,” jelas Sapta Nirwandar.

Restorasi

Inisiatif menggelar pameran tentang Indonesia di Museum Vatikan timbul pada tahun 2012. Saat itu Duta Besar Indonesia untuk Vatikan Suprapto melihat jumlah wisatawan yang mengunjungi Museum Vatikan rata-rata 25.000 orang per hari. Mereka berasal dari sejumlah negara di seluruh dunia. Itu dinilai sebagai modal untuk melakukan promosi tentang Indonesia.

Pilihannya adalah melakukan pendekatan kepada pengelola Museum Vatikan. Pendekatan itu ternyata disambut baik. Bahkan, disampaikan bahwa Museum Vatikan menyimpan 1.135 jenis artefak tentang Indonesia. Artefak-artefak tersebut dibawa para misionaris Katolik dari Eropa yang pernah bertugas di Indonesia saat kembali ke negara asalnya. Termasuk cendera mata yang pernah diterima pejabat Vatikan dan paus dari Pemerintah Indonesia.

Koleksi tertua disumbangkan Uskup Eugene Tisserant (1884-1972). Itu berupa 40 patung perunggu yang merepresentasikan dewa Hindu dan Buddha pada abad ke-8 dan ke-14. Ada pula wayang dan layar serta Al Quran mini dari abad ke-19. Bahkan, masih ada beragam koleksi mewakili kekayaan peninggalan Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam, termasuk sejumlah suku di Indonesia.

Pengelola Museum Vatikan kemudian menawarkan artefak-artefak itu untuk dipamerkan dan disetujui Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kemudian membiayai proses restorasi yang melibatkan sembilan tenaga profesional di Roma. Mereka bertugas mendata serta memperbaiki artefak-artefak tersebut. Hingga akhir Januari 2014, baru 191 artefak yang selesai direstorasi dan dipamerkan. Sisanya akan menyusul.

Ketua Tim Restorasi Artefak Indonesia Stevania Pandozy menyatakan kagum dengan artefak Indonesia. Barang-barang itu menggambarkan Indonesia sebagai negara yang kaya, majemuk, tapi harmonis. ”Itu sebabnya, kami bekerja dengan penuh gairah dan bangga, sebab ikut berkontribusi dalam pelestarian kebudayaan Indonesia. Biarkan benda-benda ini ikut mempromosikan Indonesia,” ujar Pandozy.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s