Mengingat, Bukan Membencinya

TUGU Kunstkring Paleis hanyalah satu dari ratusan gedung kuno di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Namun, kehadirannya mencoba menggugah kesadaran warga kota ini agar tak melihat Menteng hanya sebagai kawasan tempat bermukim kaum elite Jakarta.

Memang tempat ini menawarkan cara menikmati hidup yang tidak semua orang bisa merasakannya. Benda-benda seni dan bersejarah di dalamnya, pasti hanya orang yang tahu dan paham saja yang akan menghargainya.

Di sela-sela atmosfer kelas atas itu, pengelola Kunstkring, Anhar Setjadibrata, menyisipkan pesan-pesan rahasianya.

Cobalah mencicipi minuman di Suzie Wong Bar yang terletak di sayap kiri lantai bawah Kunstkring Paleis. Nama bar ini diilhami film Hongkong pada tahun 1960-an. Film itu mengisahkan perjuangan seorang perempuan di kota besar yang rela menjajakan diri agar bisa menghidupi anaknya.

Sebuah becak Tiongkok, riksaw, properti asli film itu, dan poster-posternya dihadirkan di bar tersebut. Demam Suzie Wong di Jakarta berawal ketika Bioskop Metropole, sekarang Megaria, memutar film tersebut.

Anhar menghadirkan Suzie Wong tanpa maksud mengumbar yang tak senonoh. Nilai perjuangan tokoh film itu patut terus diingat meskipun jalan yang dipilih teramat kelam.

Anhar menambahkan, pada Kamis (17/4/2014) turut dipersembahkan yang tak biasa bagi tamu-tamu khusus yang diundang untuk memperingati sekaligus merayakan 100 tahun Kunstkring. Puluhan lukisan koleksi keluarga Oei Tiong Ham dipamerkan untuk pertama kali setelah 53 tahun tersimpan rapat.

Memperlihatkan guratan syair pujangga Du Fu pada masa Dinasti Tang dari sekitar tahun 770 Masehi jelas butuh keberanian. Sedikit tersentuh saja, lembaran artefak kuno itu bisa tergerus. Dalam aksara Tiongkok, ia menegaskan, ”Jika Anda ingin menulis buku, terlebih dahulu Anda harus banyak membaca”.

Ada juga karya Lang Xi Ning, pelukis Italia yang bernama asli Giuseppe Castiglione, tahun 1740. Lukisannya menggambarkan permaisuri kaisar sedang menikmati kebun dari jendela. Lukisan ini dirampok dari Istana Musim Panas di Beijing pada tahun 1860 oleh tentara sekutu Perancis, Inggris, dan Rusia setelah Tiongkok kalah dalam Perang Candu.

Yang tak kalah menarik, lukisan macan oleh pelukis masterpiece Zhang Da Qian pada tahun 1944. Karya Zhang banyak dikoleksi oleh museum di Taipei, Taiwan.

”Keluarga Oei Tiong Ham menghargai setiap karya seni bernilai sejarah. Namun, nyaris semua koleksi beserta seluruh kekayaannya di Indonesia hilang setelah disita pemerintah tahun 1961, karena keluarga ini dianggap menyalahi undang-undang ekonomi. Yang kini dipamerkan hanyalah sebagian kecil koleksi yang bisa diselamatkan oleh anggota keluarga pada malam penyitaan,” kisah Anhar.

Selama ini keluarga enggan membukanya karena hanya akan mengingatkan pada peristiwa yang dirasa amat tidak adil. Namun, bagi Anhar, kebencian dan dendam tak bermanfaat bagi siapa pun, tetapi sejarah perlu selalu diingat.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s