Berselancar di Gumuk Pasir

YOGYAKARTA jelas tidak punya salju. Namun, kota ini punya pasir yang melimpah, tepatnya di sepanjang pesisir pantai selatan. Maka itu, jika di negara empat musim ada olahraga ”snowboarding” atau papan luncur es, di Yogyakarta ada tiruannya, ”sandboarding”. Meluncur dari atas gunungan pasir. Serrrr…!

Pasir-pasir yang terkumpul dan kemudian membentuk gunungan atau gumuk di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo inilah sumber inspirasi Komunitas Sandboarding Yogyakarta. Kegiatan utamanya mengasah keterampilan meluncur di atas pasir. Kegiatan sampingannya bercengkerama, ngobrol seru, hingga koordinasi untuk kegiatan-kegiatan petualangan lain.

Kegiatan petualangan? Ya, karena sebagian besar anggota komunitas ini memang para mahasiswa dan alumni pencinta alam Universitas Gadjah Mada, Mapagama. Meski demikian, seiring waktu, banyak orang di luar Mapagama yang tertarik bergabung dengan komunitas dan ternyata terbukti mampu menghilangkan ketegangan pikiran.

Hal ini diakui Adi Sis, mahasiswa tingkat akhir di UGM. Bahkan, kata dia, kegiatan ini lucu. ”Dibilang olahraga ya enggak, tapi keringatan, spontan, menyenangkan, bikin ketawa, dan terutama bisa mendapat teman-teman baru. Saya baru sekali ini ikut main dan langsung stres hilang,” kata dia pekan lalu di gumuk pasir Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta.

Masih menurut Adi, sandboarding itu membikin gemas, apalagi kalau gagal melulu, terjungkal sebelum finis. ”Kalau masih pemula, ada rasa takut yang menggairahkan. Makanya gemas karena pengin memacu sampai batas gak bisa,” katanya.

Rasa tertantang dan bergairah itu juga dirasakan semua anggota komunitas, seperti Riza Raihan, Afro Yalu Lintang, Prihantono Nugroho, Abdul Hamid, Dimas Dwi Septian, dan anggota yang sudah piawai, Ganesha Tarigan. ”Kalau saya memang terpacu, ingin bisa ikut kompetisi. Kalau sekarang, sih, sudah lumayan bisa kontrol keseimbangan tubuh,” ujar Ganesha, mahasiswa semester empat Jurusan Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya UGM. Ganesha sore itu menunjukkan kebolehannya, meluncur dan mendarat mulus dari atas gumuk setinggi seratusan meter.

Natalie Rae (22), mahasiswi asal Australia yang belajar di UGM, pun senang sekali bisa mengenal teman-teman baru di komunitas ini. ”Saya selalu ingin sandboarding, tapi belum punya kesempatan. Malah sekarang bisa di sini,” katanya.

Sesudah gempa

Penggagas komunitas ini, Sidik Utomo, mendapat inspirasi membentuk komunitas seusai gempa bumi di Yogya pada 2006. Sidik yang menjadi sukarelawan korban gempa sering bolak-balik Kota Yogya-Imogiri, melalui Parangkusumo. Ia lantas melihat gumuk pasir dan terbetik ide untuk memanfaatkannya.

”Pas sering lihat orang snowboarding di Youtube, rasanya ngiler, asyik, pengin mencoba. Tapi kan mustahil karena kita gak punya salju. Eh, saat lihat pasir itu langsung mikir, kenapa enggak sandboarding?” ujar lulusan Fakultas Geografi UGM ini.
Image
Gumuk pasir ini tercipta karena proses eolian, yaitu proses angin yang menerbangkan pasir dari laut sehingga membentuk hamparan padang pasir. ”Ini unik dan hanya ada satu-satunya di Asia Tenggara. Pas saat itu melihat iklan di televisi, temanya sandboarding. Dari situ saya mencoba membuat papan luncur,” tutur Sidik.

Saat itu Sidik masih mahasiswa dengan kantong terbatas. Ia dan temannya pun mencari akal dan akhirnya menemukan lemari bekas berbahan papan multipleks. ”Kami membuat papan berukuran 120 cm x 60 cm lalu menanamkan sepasang sepatu sepeda dengan baut. Itulah sandboard pertama kami yang dibuat pada 2007,” tutur Sidik.

Dicobalah papan itu. Apa yang terjadi? ”Papan gak mau meluncur,” ujar Sidik. Ia pun menyempurnakan dan akhirnya luncuran makin cespleng setelah dilumuri lilin,” sambungnya. Sidik dan teman-teman makin gembira karena menjadi bagian dari iklan sebuah produk.

Sidik dan kawan-kawan membuat inovasi lagi, memadukan sandboarding dengan layang-layang, menjadi kiteboarding. ”Tingkat risikonya relatif lebih besar dari sandboarding karena menggunakan parasut atau layang-layang. Seru banget tentunya bagi pencinta petualangan,” ujarnya.

Mahasiswa dari mancanegara yang melihat kegiatan ini sangat tertarik, bahkan katanya lebih asyik karena tidak ribet, tidak repot seperti snowboarding. Biasanya para pemula hanya bisa meluncur sejauh beberapa meter sebelum terjungkal.

Mimpi ”sandpark”

Perkembangan kegiatan sandboarding makin menggembirakan. Saban Minggu, papan-papan yang diproduksi sendiri oleh Sidik dan kawan-kawan laris dipinjam para pegiat skateboard, komunitas pencinta alam, hingga backpacker. Mereka penasaran dan ingin merasakan sensasi berselancar di pebukitan pasir.

Bagaimana bisa selaris itu? Ceritanya bermula pada tahun 2011, ketika sebuah perusahaan rokok menghubungi Komunitas Sandboarding Yogyakarta untuk digandeng dalam pembuatan iklan. Perusahaan itu memberi dua papan seharga enam juta rupiah per papan. ”Kami lalu mengamati material papan itu. Ternyata kalau kita bikin sendiri bisa lebih murah, bisa cuma Rp 600.000,” ujar Sidik.

Bisa jauh lebih murah? Itu karena komunitas ini meneliti lilin untuk pelumas papan yang digunakan oleh perusahaan rokok di laboratorium di UGM. ”Ternyata sama dengan bahan pelicin keramik atau lantai. Ya sudah kami pakai itu karena lebih murah,” jelas Sidik. Nah, sejak ada iklan sandboard yang di baliho itu, papan selancar pasir menjadi kondang.

”Teman-teman di Bromo minta dikirimin papan. Kami bikin dijual Rp 800.000. Kami juga memasukkan ke beberapa toko di Yogya dan ternyata ada peminatnya,” papar Sidik, yang sejauh ini sudah membikin 30-an papan untuk dijual.
Image
Pada pertengahan 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencantumkan sandboarding ke dalam salah satu iklan Wonderful Indonesia. Makin kondanglah kegiatan selancar pasir ini.

Komunitas pun lantas mengembangkan usaha. Mereka bekerja sama dengan teman-teman yang bekerja di agen-agen wisata. Ada beberapa agen yang membuat paket wisata plus. Plusnya itu, ya, sandboarding.

”Sekarang kami sedang mengembangkan sandboarding sebagai wisata minat khusus. Kalau bisa, ya, ada semacam sandpark buat olahraga ini. Pasti seru,” harap Sidik. Amien….

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s