Inilah Sambu, Pulau Kilang Minyak Dekat Singapura

Image

TIDAK sulit berkunjung ke Pulau Sambu yang terletak “sepelemparan batu” dari negara Singapura. Dari Kota Batam, Anda bisa menuju Pelabuhan Sekupang lalu bisa memilih pelabuhan rakyat dengan membeli tiket sebesar Rp 10.000 untuk tujuan Pulau Sambu. Sekitar 20 menit Anda menaiki pompong sejenis perahu yang bermesin menuju Pulau Sambu yang menjadi salah satu pulau yang memasok minyak bumi terbesar yang ada di Kepulauan Riau.

Sampai di pelabuhan rakyat Pulau Sambu Anda harus sedikit punya nyali untuk meniti tangga dari kayu setinggi kurang dua meter untuk mencapai ke pelabuhan. Menginjak Pulau Sambu Anda akan berdecak kagum dengan bangunan-bangunan tua yang kosong karena separuh lebih penghuninya telah pindah.

Pada buku “Mozaik Batam di Bumi Segantang Lada” yang ditulis H. Mhd Alfan Suheiri dijelaskan pada era tahun 1940-an, Pulau Sambu sudah bekembang menjadi perkampungan yang cukup ramai. Wilayah ini menjadi storage tank oil oleh perusahaan perminyakan Royal Dutch Shell sejak tahun 1927. Tidak heran jika Anda menuju Pulau Sambu Anda akan melihat kilang minyak ukuran besar yang sangat menyolok mata.

Pulau Sambu pun dari jauh terlihat seperti orang tidur yang terlentang. Saat itu, para karyawan Royal Dutch Shell mendapat fasilitas perumahan di Sambu dengan mata uang yang berlaku dollar Singapura. Sebagian dari mereka juga didatangkan dari Singapura. Setiap Sabtu dan Minggu digelar layar tancap yang memutar film-film barat era 40-an dan 50-an karena film Melayu atau film Indonesia masih belum begitu banyak.

Setiap malam Sabtu atau Minggu, sebuah tanah lapang di dekat Kompleks Perumahan Pertamina Sambu akan dijejali penonton layar tancap. Jika bosan, warga Sambu bisa bolak-balik ke Singapura hanya untuk sekadar belanja, makan-makan atau menonton film di bioskop. Situasi politik saat itu belum membatasi teritorial Singapura (masih negara bagian Malaysia) – Indonesia secara ketat. Ke Singapura cukup menunjukkan KTP, sementara barang-barang dapat keluar masuk tanpa pemeriksaan.

Menurut Pitor (55), warga Sambu kepada Kompas.com, Minggu (20/4/2014), saat ini warga yang tinggal di Pulau Sambu kurang dari 200-an orang. “Kalau saya dulu pindah ke sini tahun 1979 karena Pulau Sambu lebih ramai dibandingkan Batam sendiri. Namun semuanya berubah di tahun 1990-an akhir saat kilang minyak sudah tidak lagi beroperasi. Banyak yang pindah lagi ke Batam, akhirnya ya kini banyak bangunan-bangunan kosong,” jelasnya.

Bahkan satu-satunya bank di Pulau Sambu sudah tidak lagi beroperasi sejak 3 tahun terakhir. “Tapi untungnya ATM-nya masih bisa di gunakan,” tutur laki-laki yang membuka warung di Pulau Sambu itu.

Pitor menunjukkan bangunan SD yang sudah tutup sejak 2 tahun terakhir. “Siswanya dipindahkan ke Pulau Belakang Padang. Kalau TK-nya juga sudah lama tutup letaknya di dekat pantai sana,” tambahnya.

Ia juga menceritakan Pulau Sambu juga dilengkapi bioskop, gedung pertemuan, pusat olah raga, masjid, gereja dan kantor pos. “Saat di Batam belum ada apa-apa, di Pulau Sambu sudah lengkap. Pusat keramaian di sekitar Kepulauan Riau bagian utara ya di Pulau Sambu ini. Batam bisa dibilang masih kosong,” kata Pitor.

Anda hanya bisa menelusuri Pulau Sambu dengan berjalan kaki. Untuk Anda yang suka fotografi, hobi Anda akan tersalurkan dengan mengabadikan gedung-gedung tua yang terlihat eksotis yang mempunyai catatan sejarah masing-masing. Menara selamat datang, wisma, Kantor Pos, gedung bioskop, rumah sakit Pertamina serta beberapa telapak tangan para manager operasional Pertamina untuk sambu serta beberapa buah bungker minyak milik pertamina.

Anda juga bisa naik ke Bukit Bendara, atau menuju ke kuburan Bugis dengan menaiki tangga seribu. Anda juga bisa menikmati pemandangan dari serambi Masjid yang berada di dataran tinggi di Pulau Sambu. Konon, masjid ini merupakan salah satu masjid terbaik yang dimiliki Kota Batam.

Saat Kompas.com berkunjung, empat AC yang terletak di dalam masjid berfungsi. Padahal keadaan masjid kosong tanpa kegiatan.

Bukan hanya menikmati gedung-gedung tua yang kosong, Anda harus mampir ke pantai Pulau Sambu yang sangat memesona. Selain deretan vila kosong yang mempunyai arsitektur khas Melayu di pinggir pantai, Anda juga bisa melihat dengan jelas Singapura termasuk gedung pencakar langitnya. Belum lagi kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran internasional di Selat Singapura akan semakin membuat Anda berdecak kagum dengan keindahan Indonesia.

Pantai Pulau Sambu relatif sepi, hanya beberapa pengunjung yang biasanya datang secara berkelompok. “Banyak mahasiswa-mahasiswa dari Batam ataupun keluarga. Ramainya sih biasanya pada hari libur atau akhir pekan,” tambah Pitor.

Jika Anda bersedia jalan sedikit dari selatan ke ujung utara menyusuri pantai pesisir timur Pulau Sambu, Anda akan menemukan lapangan bola yang cukup luas, serta golf driving range. Bayangkan, pulau sekecil Sambu memiliki golf driving range sendiri. Luar biasa!

Markas KKO

Pada tahun 1963-1966, Pulau Sambu menjadi markas Komando Korps Operasi (KKO). “Waktu itu zaman masa konfrontasi ganyang Malaysia,” cerita Hadi (67) warga Sambu kepada Kompas.com. Saat itu kilang minyak dikuasai Inggris namun operasional tetap dijalankan oleh Shell Company.

“Setelah operasi Dwikora tahun 1965, kilang minyak yang awalnya di kelola Shell Company berubah menjadi Pertamina dan diambil langsung oleh pemerintah,” katanya.

Ia menceritakan dulu sempat membuat lubang perlindungan karena takut ada pesawat Inggris yang menyerang. “Sekarang lubangnya sudah hilang. Tertimbun. Dulu warga sini dan pasukan kerja sama mempertahankan Sambu,” kenangnya.

Sementara itu dalam buku “Usman dan Harun Prajurit Setia” yang ditulis Al Lettu Laut Drs Murgiyanto pada tahun 1989, Serda Usman dan Kopral Harun menyusup ke Singapura melalui Pulau Sambu dengan menempuh jarak 9 mil pada 8 Maret 1965. Dalam buku tersebut, dijelaskan mereka menggunakan perahu karet dengan mendayung.

Mereka tiba di Singapura pada 9 Maret 1965. Usman sebagai pimpinan memerintahkan Harun dan Gani bepencar untuk melakukan aksinya. Aksi heroik Usman bin Haji Mohamad Ali dan Harun bin Said, membuat namanya dijadikan nama kapal perang milik Indonesia KRI Usman Harun, walaupun sempat di permasalahkan oleh Singapura.

“Sayangnya saya dapat kabar angin jika bangunan-bangunan ini akan dihancurkan dan akan dijadikan vila dan penginapan. Padahal pulau ini mempunyai peran penting, bukan hanya sejarah minyak tapi juga sejarah Indonesia,” kata Hadi.

Sudah ada beberapa bangunan yang sudah di robohkan. “Tapi di sekitar kilang dan memang warga dilarang masuk ke wilayah tersebut. Semoga saja kabar angin itu tidak benar. Agar generasi muda bisa berkunjung ke pulau ini untuk belajar tentan sejarah Indonesia,” ujar Hadi yang mengaku akan tetap memilih tinggal di Pulau Sambu.

“Biar teman-teman saya pindah ke Batam. Anak-anak saya juga sudah pindah. Saya ingin menghabiskan masa tua saya di pulau ini sambil bercerita pada pengunjung yang datang ke sini,” katanya.

Untuk Anda suka berpetualang dan suka sejarah, masukkanlah Pulau Sambu sebagai salah satu pulau yang wajib dikunjungi. Mencintai Indonesia bisa dimulai di sini, di Pulau Sambu, Pulau Kilang Minyak antara Indonesia dan Singapura.

sumber

Advertisements

2 thoughts on “Inilah Sambu, Pulau Kilang Minyak Dekat Singapura

  1. saya sangat senang membaca tentang pulau sambu di kesempatan ini, semoga banyak lagi informasi yang memberi dorongan imaginasi agar banyak orang akan berminan melancong ke pulau sambu, trimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s