Merawat Budaya dalam Festival Jajanan Kuna

Image

HAMPIR setiap daerah memiliki makanan tradisional. Namun, kini, keberadaan makanan tradisional mulai tersisih oleh kehadiran makanan modern dan cepat saji yang semakin marak.

Demi menjaga kelestarian makanan tradisional sebagai salah satu aset budaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal, Jawa Tengah, menyelenggarakan Festival Jajanan Kuna pada Kamis (17/4/2014) hingga Sabtu (19/4/2014) di Alun-alun Kota Tegal. Festival ini diikuti 28 peserta yang terdiri dari 27 perwakilan PKK kelurahan dan 1 perwakilan PKK Pemkot Tegal.

Jajanan kuna dalam konteks bahasa Tegal sama dengan jajanan tradisional karena kuna berarti kuno dan itu identik dengan makanan yang ada sejak zaman dahulu atau makanan tradisional. ”Kami sengaja menggunakan kata kuna agar lebih terasa Tegal-nya,” kata Budi Saptaji, penanggung jawab acara.

Pemkot Tegal telah menginventarisasi makanan yang dikategorikan sebagai makanan tradisional. Makanan-makanan itu diyakini ada di Tegal sejak puluhan tahun silam, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda.

”Ada sekitar 50 jajanan kuna yang terdata,” kata dia. Makanan tersebut antara lain cethot, bubur blohok, awul-awul, alu-alu gemblong ketan, intil-intil, blendung, dan kukuran.

Festival ini, kata Budi, adalah salah satu upaya melestarikan budaya karena makanan tradisional merupakan salah satu bagian dari budaya. Apabila tidak dilestarikan, keberadaan makanan-makanan tersebut dikhawatirkan akan hilang dan tergusur oleh makanan modern dan sepat saji.

Apalagi, biasanya tak banyak lagi yang mau membuat makanan tradisional, salah satunya karena pembuatannya memakan waktu lama. Sebagai contoh blendung yang terbuat dari jagung. Sebelum dikukus dan siap disantap, jagung harus direndam paling tidak selama enam jam.

Yuli (30), perwakilan peserta dari Kelurahan Pesurungan Kidul, adalah salah satu warga yang memiliki keahlian membuat makanan tradisional. Dia mengatakan, keahlian itu diperoleh dari orangtuanya. Bahkan, dia memanfaatkan keahliannya itu untuk menambah penghasilan keluarga dengan menerima pesanan aneka makanan tradisional.

Puji Astuti (30), perwakilan peserta dari Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana, mengatakan, pembuatan makanan tradisional sebenarnya sederhana, hanya membutuhkan ketelatenan.

Dia mencontohkan pembuatan intil-intil yang dimulai dengan mencampur tepung tapioka dengan air mendidih sehingga tepung menjadi kenyal. Setelah diberi pewarna makanan, tepung yang sudah kenyal itu dipotong kecil-kecil dan direbus. Intil-intil rasanya hambar sehingga untuk menikmatinya ditambahkan parutan kelapa kukus dan taburan gula pasir.

Selain menyajikan intil-intil, dalam festival tersebut Puji menyajikan awul-awul yang terbuat dari singkong dan gemblong ketan yang terbuat dari beras ketan putih.

Wakil Wali Kota Tegal Nursholeh mengatakan, Pemkot Tegal akan terus mendukung upaya pelestarian makanan tradisional, antara lain dengan pembinaan melalui PKK. Dia yakin, makanan tradisional tidak kalah dengan makanan modern jika dikemas lebih menarik.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s