Benny M Tundan, Merangkul Sanggar, Lestarikan Budaya Dayak

Image

MENGAMATI beragamnya potensi seni dan kebudayaan suku Dayak, serta melihat banyaknya sanggar tari di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Benny M Tundan (31) terdorong untuk merangkul 52 sanggar seni dan tari di kawasan tersebut demi melestarikan budaya suku Dayak.

”Kegiatan berkesenian masih dipandang sebelah mata baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Sanggar-sanggar dan pekerja seni bisa dikatakan berjalan sendiri-sendiri, tidak terintegrasi. Padahal, di sini diperlukan sinergi dan kerja sama untuk mengangkat suatu kebudayaan,” kata Benny, yang juga koreografer pergelaran Sendratari Tambun dan Bungai yang dipentaskan pertama kali di Palangkaraya, Jumat (25/4/2014).

Dalam sendratari yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, Benny mengoordinasi 65 penari dan 20 orang tim musik, dekorasi, properti, dan pencahayaan.

Sendratari Tambun dan Bungai diharapkan menjadi pergelaran wisata yang berkelanjutan dan unggulan di Palangkaraya. Sendratari ini diharapkan bisa seperti Sendratari Ramayana di Candi Prambanan, Yogyakarta.

Penari dan tim kreatif sendratari itu berasal dari kelompok Teater Srikandi Tiung Gunung Balamping Amas, Teater Terapung, Teater Tunas, Sanggar Tari dan Budaya Marajaki, Sanggar Riak Renteng Tingang, Sanggar Betang Batarung, Sanggar Darung Tingang, Sanggar Balanga Tingang, Sanggar Kapakat, Kelompok Soul Break, serta Program Studi Seni Universitas Kristen Palangkaraya.

”Dari 52 sanggar di Palangkaraya, hanya 20 sanggar yang aktif. Semua itu perlu dibina dan diberi pelatihan tentang manajemen praproduksi, produksi, juga promosi. Di sini belum ada art center bagi seniman untuk berdiskusi, konsultasi, dan berkreasi bersama tanpa merasa terkotak-kotak dalam setiap sanggar,” ujar Benny, yang juga Koordinator Sanggar Marajaki.

Ruang tamu berukuran 10 x 8 meter di rumahnya, Jalan G Obos 109, Palangkaraya, dia jadikan tempat berkumpul atau rumah singgah para seniman bertukar gagasan menggarap pertunjukan. Ruang tamu itu juga menjadi tempat berlatih 40 murid Sanggar Marajaki yang umumnya siswa SMA dan mahasiswa.

”Setiap sanggar punya kekhasan. Ada yang membina siswa usia SD dan fokus pada kaderisasi dasar. Ada juga yang fokus pada mode dan tata busana adat Dayak. Jika ada pertunjukan besar, kami mengajak mereka semua, sesuai kelebihan masing-masing,” ujar Benny, yang juga mengajar seni dan budaya di Program Studi Seni Universitas Kristen Palangkaraya.

Dari ayah

Minat dan kecintaan Benny pada kesenian dan budaya Dayak berawal dari keluarga, terutama ayahnya, Musi Tundan. Sang ayah berasal dari Kabupaten Murung Raya dan selalu tampil menari Tantulo dalam setiap pertemuan keluarga besar.

”Ayah membawakan tari Tantulo sebagai kekhasan suku Dayak Siang. Tari itu menyimbolkan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ditarikan dengan jari telunjuk mengarah ke atas,” ujar suami Susie Sriwahyuni ini.

Sembari melihat dan mengamati ayahnya menari, Benny rajin berlatih di sejumlah sanggar pada kurun tahun 1999-2011.

”Saat SMA, saya suka tarian modern atau tari kreasi. Atas nasihat seniman Thoeseng TT Asang dari Sanggar Antang Batuah, saya mendalami seni dan budaya Dayak,” cerita Benny yang menjadi juri pada Pemilihan Duta Anti Narkoba dan Duta Tambun Bungai Kota Palangkaraya, Juli 2011.

Mengutip nasihat Thoeseng waktu itu, kata Benny, ”Tari kreasi sudah banyak ditarikan orang. Jika kita ingin tampil dan dipakai, belajarlah seni yang menjadi identitas budaya setempat. Ini unik dan banyak orang ingin tahu.”

Kemampuannya menari kreasi justru menjadi modal dia belajar seni Dayak. ”Saya masih tetap bisa menari kreasi sambil memperkenalkan dan melestarikan tarian Dayak,” ujar Benny yang menjadi penata tari pada produksi Sendratari Raja Terang Dunia yang Dimeteraikan, Desember 2010.

Dia bersyukur atas pendampingan para seniman di Palangkaraya, seperti Jhonly Pryadi, Thoeseng, Chendana Putra, S Sua, dan Jimmy O Andin. Melalui pendampingan mereka, Benny bisa memiliki keahlian menggarap tari untuk pertunjukan serta tampil di Bali, Jakarta, dan luar negeri.

Pada April 2006, misalnya, dia tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bulan Juli 2006, dia mengikuti Festival Tari Universiti-Universiti Borneo di Sarawak, Malaysia. Pada Maret 2011, Benny bersama tujuh penari lain meraih juara kedua dalam Carnaval International de Victoria di Republik Seychelles.

Komunitas

Tari garapan yang dibuat Benny antara lain tari Hatangku Hakangkalu, tari Mandehen Kapakat, dan tari Kahanjak Atei. Tari Hatangku Hakangkalu berkisah tentang semangat kebersamaan masyarakat adat Dayak di Kalteng dengan mengangkat simbol-simbol aktivitas kehidupan masyarakat.

”Tari Mandehen Kapakat menyimbolkan nilai heroik, keyakinan teguh, dan kepribadian yang kuat. Sementara tari Kahanjak Atei menyimbolkan sukacita dan ungkapan syukur kepada Tuhan,” kata Benny, yang antara lain pernah mengikuti workshop Penataan Tari Tradisi dan Musik Tradisi dari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta di Palangkaraya, April 2010.

Selain itu, dia juga membuat komunitas musik daerah dan komunitas kerajinan tangan atau hasta karya dari kulit pohon nyamu. Kerajinan tangan itu berupa miniatur simbol-simbol kegiatan sehari-hari masyarakat Dayak, seperti berladang, mendulang emas, replika pohon batang garing (kehidupan), dan rumah betang. Kerajinan itu dijual dengan harga Rp 50.000-Rp 75.000 per unit.

Dia berharap, dengan kerja sama semua pihak, seni budaya suku Dayak tetap lestari. Harapan itu senada dengan moto Benny dalam berkarya, yakni mamangun betang karuhei tatau menggetu bunu panjang yang artinya bersatu, berpadu, dan bersama menghadapi tantangan untuk membangun kehidupan.

sumber

Advertisements

One thought on “Benny M Tundan, Merangkul Sanggar, Lestarikan Budaya Dayak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s