Pariwisata Wakatobi Siap Bersaing di MEA 2015

Image

Bupati Wakatobi Hugua mengatakan pariwisata Wakatobi siap bersaing di pasar bebas atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. “Wakatobi sudah siap menghadapi MEA, untuk pariwisata andalan kita wisata laut dan perikanan,” kata Hugua saat diskusi di Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (2/5/2014).

Hugua menjelaskan kesiapan itu bisa dilihat dari pelatihan untuk menambah kemampuan masyarakat di bidang pariwisata dan perhotelan.

Ia berjanji akan lebih memberdayakan pemuda-pemudi pribumi ketimbang masyarakat luar daerah. “Kita melihat, masyarakat lokal harus menjadi pelaku untuk event-event nasional maupun internasional. Harus ada pendidikan tinggi, terutama pariwisata,” katanya.

Saat ini, Menurut Hugua hampir 80-90 persen pekerja-pekerja di bidang pariwisata Kabupaten Wakatobi adalah penduduk lokal. “Awalnya, kami pesimistis, tapi kami melihat kematangan ini, lama-lama sudah mulai bisa walaupun masih terbatas,” katanya.

Namun, dia juga menyayangkan tidak adanya perguruan tinggi di Wakatobi menjadi hambatan pendidikan untuk masyarakat. “Kita kalau mau kuliah harus ke Bau-Bau atau kendari, nah kebanyakan kalau sudah di Kendari, mereka (yang sudah lulus) tidak pulang lagi,” katanya.

Hugua juga meminta pemerintah pusat untuk memperhatikan pendidikan di wilayah Timur dan tidak hanya berpusat di wilayah Barat dengan membangun universitas negeri.

Dari segi infrastruktur, Hugua mengaku belum semuanya memadai, seperti jalan dan listrik. Namun, dia menilai kondisi jalan sudah lebih baik dari sebelumnya. Untuk listrik, dia mengatakan sedang dibangun PLTU dalam memenuhi pasokan hotel-hotel dan resor.

Dari segi akses, meskipun diakui masih minim, sudah terbantu dengan dibangunnya Bandara Matahora dari dana APBD yang menghabiskan sekitar Rp 100 miliar.

Hugua melanjutkan, membangun bandara itu sulit sekali ditambah dengan pemikiran masyarakat yang masih belum begitu paham akan pentingnya bandara bagi akses pariwisata.

Sebetulnya, terdapat dua bandara di Kabupaten Wakatobi, yakni Bandara Matohara dan Bandara Tomia. Namun Bandara Tomia dikelola oleh Swiss sejak 1999 dan hanya melayani penerbangan privat dengan pesawat sewaan.

Saat ini, rute penerbangan untuk mencapai Wakatobi dari Jakarta memakan waktu sekitar enam jam dengan dua kali transit di Makassar dan Kendari. “Saya punya mimpi, 2017 ada penerbangan lima kali sehari,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Tawakal mengatakan dalam menghadapi MEA, pihaknya lebih menekankan kepada peningkatan sumber daya manusia.

Menurut Tawakal, sejak 2009 sudah diadakan pelatihan perhotelan meski masih minim fasilitas. “Kita di sini, perhotelan masih menggunakan manajemen keluarga, dan itu kesulitannya,” kata Tawakal.

Ia mengaku persiapan untuk pelatihan SDM mencapai 50 persen dengan mengirim sekitar 40 calon siswa per tahun untuk dibekali keterampilan dengan bekerja sama Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). “Sekarang sudah mulai berkembang, kita akan tingkatkan lagi,” katanya.

Tawakal menambahkan sektor pariwisata bahari merupakan andalan kabupaten di Tenggara Indonesia tersebut karena luas wilayah laut mendominasi dari keseluruhan luas wilayah kabupaten, yakni seluas 18.377 kilometer persegi atau sebesar 97 persen dari 19.200 kilometer persegi, sementara daratan hanya 823 kilometer persegi.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s