Kota Nice di Perancis Selatan, “So Nice”!

Image

BAGAIMANA saya tidak bertambah tertarik dengan kota Nice yang semakin lama semakin menyenangkan. Taman kota di tengah jalan seluas 12 hektar, begitu hijau, sangat mengasyikkan karena diperuntukkan bagi segala kalangan. Taman ini memang unik, berada di tengah kota, memanjang menyambungkan antara Promenade des Anglais hingga gedung teater nasional. Taman yang berada di antara jalur kendaraan, seolah menjadi penengah, penenteram dari hiruk pikuk dan bisingnya lalu lintas.

Kami beruntung, saat datang taman ini baru saja diresmikan pada Oktober 2013, jadi rumputnya masih sangat hijau dan segar. Segala fasilitasnya pun masih baru. Permainan anak-anak begitu dinikmati oleh para anak kecil yang kegirangan karena bisa bermain dengan bebas secara gratis dikelilingi oleh kehijauan.

Para orang tua asyik duduk di bangku-bangku taman. Ada yang mematung, mungkin melamun, ada yang serius baca surat kabar, banyak juga yang keasyikkan melihat tingkah anak kecil yang lari-lari bermain air tanpa takut kebasahan.

Di taman yang dinamakan Promenade de Paillon ini, terdapat juga sebuah ‘miroir d’eau’ cermin air. Yaitu sebuah tempat dengan air mancur di mana-mana, hingga membuat genangan air, dan genangan air menjadi seolah cermin. Anak-anak sangat menyukainya! Air mancur yang bermain, membuat para bocah, mencoba berlari adu gesit dengan pancuran air, bila terkena air dan menjadi basah kuyup, para orang tua, tak sedikit pun ribut dan risau. Mereka malah ikut tertawa geli melihat tingkah anak-anak mereka. Mungkin kalau saya, yang paling ditakuti masuk anginnya itu, melihat anak-anak kebasahan dan kena angin he-he-he…

Taman yang kami mulai tapaki dari teater membawa kami hingga ke pantai. Sepanjang jalan, berbagai patung seni kami temui, malah kebanyakan peninggalan antik. Juga beraneka ragam tumbuhan. Dari mulai tanaman tropis hingga jenis tanaman yang berada di Eropa. Terus terang saya kagum dengan ide ini, karena selain indah dan nyaman, para penduduk bisa membawa anak-anak mereka setiap harinya, untuk bermain. Dan taman dengan fasilitas lengkap namun gratis, memang patut mendapatkan acungan jempol!

Pagi hari kaki sudah diberikan kesenangan melangkah. Kami memutuskan untuk mengunjungi kota kecil tak jauh dari Nice, yaitu Eze. Kabarnya kota ini sangat cantik, penuh bunga dan berada di atas bukit sangat menakjubkan, dan kami pun berniat untuk menikmati makan siang di kota itu. Lokasinya hanya 12 km dari Nice atau sekitar 30 menit dengan mobil. Itu pun karena kami memilih jalan di pinggir tepian laut Côte d’azur.

“Nanti kamu bawa Dini, ke Kota Eze, tapi jangan lewat jalur cepat, harus melalui jalan kecil (corniche), pemandangan yang terlihat indah sekali, pasti Dini bakalan suka dan saya yakin akan bisa jadi bahan tulisan nantinya,” pesan ayah Kang Dadang alias David kepada anaknya, agar tak lupa membawa menantunya jalan-jalan ke Kota Eze.

Dan memang benar, tahu saja bapak mertua saya itu, jika melihat yang indah,  menantunya ini selalu ingin berbagi dalam tulisan. Mungil, begitu kesan yang saya dapatkan. Tempat parkir umum di kota ini saja pas-pasan. Harus sabar menunggu salah satu mobil yang keluar untuk dapat parkir.

Setelah bersabar selama 15 menit akhirnya dapat juga tempat untuk memarkir mobil kami. Tapi hari sudah siang, dan acara jalan-jalan terpaksa ditunda dulu, karena perut kami sudah main genderang alias lapar. Sambil mencari restoran, jalanan batu kami tapaki. Jalanan menanjak dengan rumah khas Perancis dari batu. Pintu kayu kokoh dan bunga dalam pot tembaga, menghiasi kediaman, menjadi teman pemandangan kami dalam mencari tempat menikmati santapan siang.

Sungguh cantik sekali, jalanan yang naik dan turun, semuanya dari batu. Kadang, kami harus dibuat mengalah, saat pejalan lainnya berpapasan dengan kami dari arah berlawanan, karena jalanan begitu sempit. Dan salam ‘bonjour’ pun diucapkan saat saling melintas. Kadang logat asing, dalam pengucapkan salam Perancis itu terasa sekali. Namun satu kata yang terucap yaitu ‘bonjour’ dengan senyuman membuat suasana semakin nyaman.

Saya tidak bisa melewatkan kesempatkan ini, hampir setiap bunga dalam pot kuning tembaga yang berwarna warni, jadi bahan jepretan saya. Belum lagi ditambah, kadang beberapa kucing, di depan jendela yang hanya sebaris, rasanya hanya cukup untuk lima jari, telentang, tertidur dengan pulasnya, seperti boneka kucing-kucingan dengan bulu tebalnya.

Sekarang saya mengerti mengapa bapak mertua sampai wanti-wanti agar suami saya membawa istrinya datang ke kota ini. Beberapa butik dekorasi seni dan suvenir kami lewati, khas Mediterania. Tapi saya tak berminat beli oleh-oleh, karena terlalu asyik dengan keramaian kanan kiri dari bangunan bebatuan yang mendominasi kota ini. Hingga kaki ini akhirnya memutuskan untuk menikmati makan siang di sebuah restoran kecil sangat unik.

Deli, begitu nama restoran tersebut. Lokasinya di atas bukit dengan dekorasi apik. Mungkin lebih tepatnya snack bar, karena makanan yang ditawarkan seperti sandwich dan salad. Mulanya saya ragu, karena meskipun restoran ini cantik, namun saya sudah membayangkan makanan panas. Berhubung udara saat itu sudah cukup terik rasanya menikmati salad segar tak ada salahnya.

Ternyata kami tak salah pilih. Dua salad, enak dan segar habis dengan cepat, ditemani roti yang diolesi minyak zaitun. Pemilik restoran sangat ramah. Tak henti-hentinya kami ditanya mengenai asal diri saya, karena rupanya Indonesia adalah negara yang membuatnya terpesona.

Untung juga kami tak makan berat, karena meskipun kenyang tapi perut tak menjadi beban untuk diajak melanjutkan perjalanan kaki. Setelah membeli produk minyak zaitun di restoran yang juga terdapat butik imut-imut itu, kami memilih untuk mendatangi Gereja Eze. Sebuah gereja yang dibangun abad ke 12 bergaya neo-klasik dan terpilih menjadi monumen bersejarah sejak Desember 1984.

Bagi saya pribadi, gereja berwarna kuning dan putih ini tak terlalu istimewa, seolah bangunan baru. Rupanya memang gereja yang kami datangi bukan yang aslinya, namun merupakan bangunan yang dibangun ulang pada 1778 karena gereja asli Eze, telah runtuh.

Dari gereja kami mendatangi taman eksotis yang konon menjadi bintang di kota ini. Dari taman ini pemandangan laut biru azur yang berwarna memesona membentang luas bisa dinikmati. Tapi sayangnya, taman eksotis ini tidak gratis, harus membayar. Pohon kaktus yang menjadi idola dan dominan di sini. Saat saya membaca salah satu jenis tanaman, saya sampai dibuat tertawa karena tertulis ‘coussin belle mere’, artinya ‘bantal ibu mertua’. Bukannya apa-apa, pohon kaktus ini memang seperti bantal bundar tapi durinya itu, waduhhhhhh… tidak ada satu pun celah dari pohon ini yang tak berduri, mana tajam lagi, membuat saya geli.

“Cheri, lihat sini, nanti ibumu ulang tahun kita belikan pohon ini ya cocok namanya buat dia he-he-he…,” canda saya kepada suami, yang disambut dengan tawa ngakak Kang Dadang.

Di taman ini yang dibangun setelah Perang Dunia II ini, terdapat sebuah kastil, konon kita bisa mendatangi dan menikmati panorama dari kastil tersebut. Tapi kini, kastil itu telah menjadi hotel luks pribadi yang tak mungkin didatangi oleh umum secara bebas. Saat kami mencoba mengintip saja, langsung seorang penjaga datang dan mengatakan, “Jalan-jalan ke taman silakan meneruskan ke atas”. Secara halus meminta kami tak celingukan ngintip ke dalam.

Taman ini dipenuhi dengan tumbuhan yang cocok dengan iklim Côte d’Azur, tanaman tropis lah yang justru dianggap paling cocok untuk udara di sini. Berada di taman Eze, serasa berada tergantung di antara ketinggian 400 meter antara daratan dan langit. Dan pesona panorama dari yang dijanjikan terbukti. Tak heran dekor tumbuhan botanik dengan laut biru azur dan bangunan yang menjadi miniatur menjadi sasaran para pengunjung untuk mengabadikan diri menjadi foto kenangan perjalanan.

Menjelang sore kami memilih untuk kembali ke Nice, membersihkan badan di hotel untuk kemudian melanjutkan jalan-jalan sore di kota Nice. Badan sudah segar, kewajiban ibadah sudah dikerjakan juga di penginapan, saatnya mengunjungi hotel yang paling beken di kota ini. Namanya Hotel Negresco. Hotel ini sudah dua kami kami lewati, tapi belum sempat kami datangi.

Kang Dadang tak terlalu semangat saat saya ajak untuk sekadar cuci mata ke dalam hotel. “Mau ngapain sih cheri? Nanti kita disangka kayak orang norak loh, masuk hotel cuma buat lihat-lihat terus foto-foto. Memang kamu kalau di Indonesia masuk hotel berbintang buat foto-foto gitu?” ledeknya.

Egp ah, kapan lagi sih kita ke sini belum tentu setahun sekali, kan kamu sendiri yang nggak berhenti cerita soal hotel ini. Kabarnya dulu sangat terkenal, terus, semenjak lihat reportase di tv yahhh jadi makin penasaran dong. Pasti seru deh, hayo lah cheri…,” bujuk saya yang akhirnya berhasil membuat suami masuk ke dalam hotel.

Kami disambut oleh petugas dengan seragam masa lampau, suatu kesan tertentu. Hotel bintang lima ini merupakan salah satu hotel peninggalan awal abad ke 20 yang masih utuh dan masih berfungsi. Bahkan mendapatkan kehormatan sebagai bangunan bersejarah. Beda memang, di Indonesia, berkat pekerjaan ayah, kami anak-anaknya sudah biasa keluar masuk hotel bintang lima, ikut-ikutan ayah karena adanya acara kongres misalnya. Tapi kali ini, kami masuk tanpa adanya undangan, alias modal penasaran.

Ruangan utama besar dengan dominasi warna putih, lampu kristal raksasa di tengahnya. Ruangan berbentuk bulat dengan sisi bagaikan lorong dengan beberapa kursi, lukisan, foto beberapa artis terkenal tamu hotel dan patung seni. Pada awalnya, jujur, saya pun sedikit ragu untuk mengambil foto, takut dilarang. Tapi seperti biasa, karena saya ini Asia, kalau diomelin ya anggap aja turis.

Mulailah saya main kamera, jepret sana sini. Kang Dadang yang duduk melihat tingkah istrinya pun kena jepretan. Rupanya, keberanian saya memotret, dilihat oleh turis lainnya yang ikutan seperti kami, datang ke hotel bukan karena tamu menginap tapi karena penasaran. Jadilah ruangan utama itu, layaknya museum. Petugas hanya melihat kami dan tersenyum. Leganya…

Ternyata ketakutan saya tak ada alasan, dan saya yakin hal ini sudah menjadi salah satu bagian dari keseharian mereka. Habis, kapan lagi bisa mengambil kenangan seperti ini, sebuah hotel yang menjadi tempat penginapan favorit sejumlah bintang Hollywood dan para bangsawan, seperti, Liz Taylor dan pasangannya Richard Burton, Grace Kelly dan Pangeran Rainer, Paul Mc Cartney.

Dan kabarnya, Bill Gates, saat membayar memberikan cek bertanda tangan tanpa diisi total biaya yang harus dikeluarkan dengan catatan, silakan menuliskan jumlah total biaya sekehendak Anda! Hal ini dilakukan karena dia merasa harga yang tertulis tidak sesuai dengan kepuasan dan kenikmatan yang didapati saat bermalam di Hotel Negresco ini.

Puas memotret, saya bilang ke suami ingin ke kamar kecil (WC) tapi yang ada keinginan untuk buang air langsung hilang ketika melihat WC-nya. Saya langsung ke luar, mencari suami karena kamera saya titipkan padanya. Apalagi pas saya lewati WC pria, sudah gemas rasanya ingin segera memotret. Dan suami pun saya tarik agar segera menuju WC biar dia bisa mengabadikan WC unik hotel ini. Dekorasinya memang unik dan apik sekali, gaya zaman dulu yang sudah tak mungkin saya temukan di WC hotel saat ini.

Memang seru jadinya. Suami saya terlihat puas senyum-senyum dan mengaku tak rugi menuruti permintaan istrinya masuk ke dalam hotel yang menjadi tempat favoritnya Salvador Dali.

Kami kemudian memutuskan untuk menikmati sore dengan menghirup minuman hangat. Kang Dadang, menyatakan sudah tanggung, kita ngopi saja di hotel ini, tapi saya ragu, sudah kebayang harganya pasti mahal! Kamipun masuk ke dalam cafe bar. Pelayan memakai seragam jas hitam, rambut mereka klimis semua dengan baju hitam dan kemeja putih membawa nampan seolah akan berdansa dalam melayani tamunya.

Kami memesan capuccino dan jus citrun. Harganya? 20 euros total semua untuk dua cangkir minuman. Kami berdua hanya terkekeh, karena di luar paling uang yang kami keluarkan sekitar 8 euros untuk minuman yang sama. Tapi, rupanya di samping minuman yang kami pesan, mereka memberikan kepada kami berbagai cemilan gratis, yang langsung kami serbu.

Melihat jam, waktunya matahari meleleh dalam lautan Mediterania. Segera kami tinggalkan cafe, dan melangkah menyeberangi hotel yang menghadap Promenade des Anglais. Duduk berdua di bangku. Sekali lagi menyaksikan atraksi berbaurnya sang bola api yang sedikit demi sedikit melebur, menebarkan warna merah, oranye, bersatu dengan air biru hingga menelan keseluruhan sang raja cahaya… Itulah Nice, sebuah kota di Mediterania yang sangat menyenangkan.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s