Merapi Waspada, Okupansi Hotel Turun

Image

Okupansi atau tingkat keterisian hotel di Kota Yogyakarta dan sekitarnya turun sekitar 10 persen menyusul kenaikan status Gunung Merapi menjadi Waspada. Sejumlah wisatawan membatalkan pesanan kamar hotel karena khawatir Merapi akan mengalami kenaikan aktivitas vulkanik dalam waktu dekat.

”Memang ada dampak kenaikan status Merapi terhadap okupansi hotel. Setelah status Merapi menjadi Waspada, okupansi hotel turun sekitar 10 persen,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Istidjab M Danunagoro, Senin (5/5/2014), di Yogyakarta.

Status Gunung Merapi, yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, dinaikkan dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II) pada 29 April pukul 23.50. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memutuskan menaikkan status Merapi karena ada peningkatan aktivitas vulkanik yang dikhawatirkan memicu letusan skala kecil.

Istidjab menjelaskan, sesudah status Merapi dinaikkan, sejumlah pesanan kamar hotel di Yogyakarta dan sekitarnya mendadak dibatalkan. Sebagian besar yang membatalkan pesanan kamar adalah wisatawan. ”Wisatawan takut Merapi meletus atau bagaimana sehingga mereka memilih menunda liburan ke Yogyakarta,” ujar dia.

Istidjab menambahkan, pada masa libur panjang akhir pekan lalu, yakni pada 1-4 Mei, okupansi hotel di Yogyakarta dan sekitarnya mencapai 70 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan okupansi pada masa liburan panjang akhir pekan sebelumnya.

”Kamis tanggal 1 Mei itu, kan, hari libur nasional sehingga banyak warga yang menikmati liburan panjang akhir pekan. Namun, okupansi hotel hanya 70 persen. Padahal, biasanya sampai 80 persen lebih,” kata dia.

Menurut dia, penurunan okupansi terbesar terjadi di hotel-hotel di kawasan wisata Kaliurang, Kabupaten Sleman, yang berlokasi di lereng selatan Merapi. ”Di Kaliurang yang paling terasa dampaknya karena dekat dengan Merapi. Namun, hotel-hotel di Kota Yogyakarta yang jauh dari Merapi pun tetap ada penurunan okupansi,” ujar dia.

Kepala BPPTKG Subandriyo mengimbau, wisatawan tidak perlu panik menanggapi kenaikan status Merapi. Kenaikan status kali ini berbeda dengan kenaikan status Merapi dari Normal ke Waspada pada 2010. ”Saat ini, aktivitas Merapi hanya melibatkan gas vulkanik, bukan magma sehingga sangat berbeda dengan tahun 2010,” ujar dia.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s