Kisah di Balik Sate Jamur Cak Oney Yogyakarta

Image

Supriyadi tengah sibuk membakar sate-sate yang ditaruhnya di atas tungku arang dengan kipas elektronik tepat di depannya. Hanya empat sampai lima menit, tangannya cekatan memindahkan sate yang matang ke dalam sebuah nampan lalu meletakkan kembali sate yang akan dibakarnya pada tungku arang.

Hampir setiap hari, begitulah pekerjaannya. Bersama istri dan karyawan-karyawan yang dipekerjakan di rumahnya, Yogyakarta ia membuat pesanan-pesanan yang masuk, Sate Jamur Cak Oney Yogyakarta. “Setiap hari minimal 1.000 tusuk pesanan yang masuk,” ujarnya saat ditemui di Festival Jajanan Bango (FJB) 2014 beberapa waktu lalu.

Sate jamur ini bisa dibilang amat terjangkau, satu porsinya di Yogyakarta dihargai Rp 12.000 yang terdiri dari lima sate lengkap dengan lontong. Sekilas, rasanya mirip dengan daging ayam, hanya saja teksturnya lebih lembut dengan rasa bumbu kacang yang kuat. Supriyadi pintar mengolahnya, walaupun dengan bahan dasar jamur tentu sate ini tak kalah dengan sate daging yang biasa dijajakan di masyarakat.

Jamur tiram menjadi pilihan Supriyadi bukan tanpa alasan, tak seperti sate kebanyakan yang menawarkan pilihan daging ayam hingga kambing. “Yang lain sudah biasa, lagi pula jamur tiram ini lebih murah. Banyak pertimbangan sebenarnya, sebelum nama kami dikenal masyarakat tentu sulit sekali memasarkannya,” ujarnya. Pikirannya menerawang, teringat perjuangannya dahulu.

Supriyadi saat itu berusia 43 tahun ketika kehilangan pekerjaannya. “Tahun 2004 waktu itu, saya kena PHK dan kalang kabut harus bekerja apalagi di usia yang tak muda lagi, tentu sulit sekali mencari kerja,” jelasnya.

Dari tabungan yang jauh dari cukup, ia memulai usahanya. Tahun 2004 bertepatan dengan meletusnya Gunung Merapi saat itu, Supriyadi yang tinggal di Kota Gudeg terenyuh melihat bencana ini. “Waktu itu bencana, kebetulan juga banyak jamur yang akhirnya terbuang sia-sia karena bencana ini,” tuturnya.

Kejadian itu menjadi inspirasi baginya apalagi saat itu di Yogyakarta terdapat restoran terkenal yang menawarkan jamur sebagai menu utamanya, jamur tiram. Harganya tak mahal lagi pula sehat karena nilai gizinya cukup tinggi dengan kandungan protein tinggi dan asam amino yang lengkap. “Sudahlah pikir saya, jamur tiram sepertinya akan menjadi bahan baku yang baik. Selama masih hidup, manusia tentu butuh makan, dan pada akhirnya akan memilih yang sehat,” tambahnya.

Ada cerita saat ia pertama kali memasarkannya. “Tahun 2004, tabungan kami pas-pasan. Kami hanya bisa membeli 0,5 kg jamur tiram lalu kami berikan cuma-cuma untuk tetangga dan teman dari situ banyak komentar kurang ini itu dan kami terus coba, belum ada nama dagang saat itu,” kenangnya.

Setelah itu ia mulai membuatnya lagi, kali ini sedikit lebih banyak, jamur diberikan pada anak-anak kecil. Mereka menjadi objek untuk mencoba sate jamur. “Saya punya prinsip, bahwa anak-anak adalah orang yang paling jujur, saat kami berikan dia nagih berarti sudah enak kan? Kebetulan anak-anak waktu itu mulai menagih lagi, ya sudah kami mulai memasarkannya dari mulut ke mulut tanpa rumah makan. Hanya catering saja untuk orang-orang sekitar,” katanya.

Tak semudah membalikkan telapak tangan, sate jamur ini nyatanya masih kurang diterima masyarakat. Supriyadi bahkan harus vakum selama empat tahun hingga 2008 ia cukup berani untuk terjun memasarkannya kembali. “Saat itu saya dibantu teman, orang Surabaya. Saat itu lah nama Cak Oney lahir,” ungkapnya.

Tak ada filosofis dari nama tersebut tapi nyatanya nama tersebut membawanya hingga kini, di mana sate jamur miliknya dikenal hingga ke luar Yogyakarta. “Nama kami tentu tak lepas dari FJB ini, jujur saja setelah rutin ikut FJB banyak pesanan luar daerah. Dari yang dekat-dekat sampai ke Bali, Jakarta hingga Riau,” jelasnya.

Saat ini pun ia tak lepas dari kendala begitu saja, duka pernah datang saat sate miliknya yang harus dikirim ke Jakarta basi. “Waktu itu 600 tusuk yang basi ternyata saya kurang kering membakarnya, aduh mana modal pas-pas an mau tak mau harus diganti,” begitu ceritanya.

Dari pengalaman tersebut ia mulai belajar kembali, bakar sate harus kering biar lebih tahan lama, maklum Supriyadi berkomitmen untuk tak memakai bahan pengawet. Bukan itu saja ia tak memakai vetsin juga pada satenya. Fungsi vetsin sebagai penyedap rasa digantikan oleh kemiri. Sedang bumbu lain, ia selalu mengutamakan bumbu-bumbu tradisional yang berkualitas. “Bisa dicoba, selain rempahnya kuat, rasanya tak kalah sedap, sate kami tahan lama hingga dua hari,” ucapnya yakin.

Kini dengan nama yang sudah mulai dikenal masyarakat, Supriyadi berharap bisa mencari inovasi untuk usahanya yang lebih suka disebutkannya sebagai rintisan itu. “Selain inovasi, saya ingin membuka rumah makan, semoga,” harapnya di akhir pembicaraan.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s