Menemukan Kembali Tenun yang Hilang

Image

BELUM banyak orang yang mengenal tenun asal Jembrana dari Bali barat. Perang melawan kolonialisme dan pertentangan antar-kerajaan di Bali sekitar abad ke-18 membuat tradisi menenun di Jembrana luntur. Motif tenun khas daerah itu pun langka. Kendati demikian, harapan menemukan kembali tenun yang sempat tenggelam itu tidak pernah pudar.

Gairah membangkitkan kembali keelokan tenun jembrana itu menjelma dalam butir-butir keringat Komang Suliasih (40), seorang peserta pelatihan perajin tenun yang diadakan Cita Tenun Indonesia (CTI) bersama Hivos dan Uni Eropa, beberapa saat lalu. Bersama 34 peserta lain, yang semuanya perempuan, Suliasih duduk menghadap meja yang disusun memanjang di Balai Pertemuan Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana. Setiap peserta diminta membuat pola di kertas sesuai dengan motif tenun yang dihamparkan di meja itu.

Motif yang mesti dibuat oleh mereka ialah padma atau bunga teratai. Bentuknya seperti bintang dengan empat hingga delapan sisi lancip, yang membuatnya disebut babintangan oleh perajin Jembrana.

”Susah membuat pola ini. Saya bingung dengan titik-titik yang harus dibuat pada kotak kecil ini. Jika disuruh membuat tenun, saya bisa lebih mudah mengerjakannya. Kalau diminta membikin polanya, saya masih kesulitan,” ujar Suliasih.

Siang itu, kaum ibu perajin tenun mengenakan baju adat perempuan Bali berupa kebaya yang dipadu dengan kain tenun atau sarung di bagian bawahnya. Mereka datang dari enam sentra tenun di Jembrana, mengikuti pelatihan yang ditujukan untuk membekali perajin kemampuan pewarnaan alami, yakni dengan bahan dari tetumbuhan.

Pembuatan pola di kertas itu adalah acara terakhir dari pelatihan itu. Namun, kegiatan itu agaknya merupakan salah satu yang terpenting. Nining Koestedjo, desainer tekstil dari Jakarta, mendampingi ibu-ibu itu membuat pola.

”Banyak motif tenun jembrana yang hilang. Memori akan motif itu masih dimiliki perajin tenun karena pengetahuan itu diwariskan turun-temurun. Hanya, motif itu tak banyak diproduksi karena perajin lebih memilih motif yang mudah, diminta pasar, dan cepat laku,” kata Nining. Pembuatan pola di atas kertas itu dimaksudkan agar motif khas Jembrana terdokumentasikan. Pengetahuan itu perlu dikenalkan kepada semua peserta pelatihan kendati tak semua perajin bisa membuat pola.

Menyelamatkan memori

Dalam enam kali pelatihan, tim CTI mendapati perajin tenun jembrana kesulitan menamai motif lama yang sebenarnya bentuknya masih tersimpan dalam memori mereka. Muncullah motif unik yang dinamai dengan bahasa ibu mereka, misalnya pale gunung yang berbentuk seperti gunung. Motif ini biasa di tepian kain tenun.

Desainer Didi Budiardjo, yang mendampingi peserta dalam pelatihan, senang karena menemukan kain widiadari. Kain itu tersusun dari motif padma dalam aneka warna dan bentukan. Pada tenun jembrana, Didi mencatat, warna yang kerap kali dipakai ialah warna teduh, seperti coklat, biru, dan krem, berbeda dengan warna tenun dari Bali timur, seperti dari Klungkung dan Karang Asem, yang motif dan warnanya lebih meriah.

”Widia asal kata dari vidya yang artinya ilmu pengetahuan. Dari artinya pemilik. Kain ini representasi pengetahuan atau kebajikan yang diturunkan dari ibu sebagai sang pemilik kepada anaknya yang selanjutnya menjadi penerus kebajikan tersebut,” ujarnya. Kain widiadari melambangkan suatu memori kolektif masyarakat Jembrana akan perikehidupan yang berusaha dilestarikan dari generasi ke generasi.

Namun, perikehidupan yang senantiasa berproses, beradu, dan berpadu juga tergambarkan dalam kreasi perajin tenun jembrana. Mereka, antara lain, membuat tenun prembon sebagai perpaduan dari tenun ikat atau endek dengan songket.

Untuk menghasilkan prembon, perajin menerapkan dua teknik. Pertama, mereka membuat endek terlebih dulu, yakni dengan mencelupkan benang yang diikat pada pewarna. Saat benang yang sudah diwarnai itu ditenun dan membentuk motif tertentu, perajin menyelipkan benang-benang warna emas untuk membuat songket.

”Tak mudah membuat prembon seperti ini, tetapi nyatanya mereka bisa membuat perpaduan mulus antara motif padma yang ditenun dan teknik pewarnaan ikat dengan songket,” ungkap Didi, yang juga mendesain tiga baju menggunakan bahan kain endek dan prembon.

Upaya menemukan kembali motif asli dan khas Jembrana, menurut pempinan proyek CTI, Dhanny Dahlan, tidak sekadar membangkitkan motif lama dan tua. Namun, lebih dari itu, upaya ini adalah perjalanan menemukan jati diri Jembrana.

”Apa tenun jembrana itu? Bagaimana motifnya? Orang sulit menemukannya sekarang. Perajin tenun jembrana banyak terpengaruh dengan motif dari Bali timur, tetapi bukan berarti Jembrana tak memiliki kekhasan dan kekuatan sendiri yang membedakan dengan tenun dari daerah lain. Ini yang berusaha kami gali supaya tenun jembrana bangkit,” kata Dhanny.

Perjalanan menuju kebangkitan kembali tenun jembrana itu banyak bergantung pada pelaku tradisi itu sendiri. Di Jembrana, saat ini sedikitnya ada enam sentra tenun yang penggeraknya sebagian besar perempuan. Bagi mereka, menenun adalah kegiatan sehari-hari yang tidak bisa dianggap sepele sebagai sampingan, tetapi menjadi penghidupan pula.

Ketut Karneni (49) dan Luh Swasti (40), misalnya, rata-rata mendapatkan Rp 45.000 per hari dari industri tenun rumahan Mekarsari yang mempekerjakan mereka dengan sistem borongan. Perajin bisa bekerja di rumah sembari mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka menjadi penopang kehidupan keluarga.

”Suami saya kerja serabutan. Uang dari menenun cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kalau ada keperluan untuk upacara atau hari raya, saya bisa minta kas bon,” ujar Luh Swasti.

Pemerintah daerah

Peran pemerintah daerah masih minim untuk mendorong tenun jembrana. Namun, bukan berarti tidak ada upaya sama sekali. Kepala Seksi Wisata Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jembrana Mahendra mengatakan, saat ini ada sekitar 300 perajin tenun yang tersebar di enam sentra di daerah itu. Namun, jumlah kain tenun yang diproduksi masih terbatas.

Ari Sugianti Artha, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jembrana, yang juga istri Bupati Jembrana I Putu Artha, mengatakan, daerahnya memang agak tertinggal dalam bidang pariwisata dan kesenian dibandingkan dengan daerah lain di Bali. Kabupaten di ujung barat Bali itu sedang menggali potensi seni dan wisata untuk menjadi penanda daerah. (Rini Kustiasih)

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s