Saatnya Berwisata ke Banyuwangi

Image

OBYEK wisata di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur memang beragam. Kunjungan wisatawan pun semakin bertambah menuju kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini. Banyak pilihan wisatawan datang ke sini untuk menikmati pantainya yang masih bersih, alami, taman nasional, melihat blue fire di Kawah Ijen sampai hidangan kulinernya yang mengundang selera.

Salah satu obyek wisata yang diburu turis mancanegara khususnya para peselancar adalah pantai Plengkung atau lebih dikenal dengan G-Land. Lokasinya terletak di dalam Taman Nasional Alas Purwo. Kamis (1/5/2014), Raja Wisata, sebuah biro perjalanan wisata, mengundang Kompas Travel untuk menjelajahi berbagai obyek wisata di Taman Nasional Alas Purwo. Tawaran pun langsung disambut.

Setelah terbang dari Jakarta menggunakan Lion Air menuju Surabaya dan dilanjutkan dengan Wings Air menuju Banyuwangi, pada Kamis (1/5/2014) yang terik, Kompas Travel tiba di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi.

Di bandara tersebut, ternyata sedang parkir pesawat Garuda Indonesia jenis ATR 72-600 sama dengan jenis pesawat yang dipakai Wings Air untuk melayani rute Surabaya-Banyuwangi (pp). Ini merupakan penerbangan perdana Garuda Indonesia melayani rute Denpasar-Banyuwangi-Surabaya (pp). 

Shelly dari Raja Wisata sudah siap menunggu di bandara dengan mobil jemputan untuk mengantarkan Kompas Travel menuju Plengkung.

Setelah makan siang dan bertemu teman-teman dari Kemenparekraf dan blogger Barry Kusuma, dengan menggunakan mobil Joyo’s Surf Camp, kami lantas menuju arah selatan Kota Banyuwangi menyambangi Taman Nasional Alas Purwo.

Satu jam pertama, mobil masih melaju di jalan aspal nan mulus. Setelah itu mobil memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Usai melewati Pos Rowobendo, jalan aspal berubah menjadi jalan bertanah dan berbatu dan kadang penuh lubang. Guncangan mulai terasa ketika melewati Pos Pancur. Penumpang diayun-ayun, kiri-kanan, depan-belakang. Namun kami semua sudah menyadari, beginilah kondisi memasuki sebuah taman nasional. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam akhirnya kami tiba di Joyo’s Surf Camp di Pantai Plengkung alias G-Land.
Image
Berikut beberapa obyek wisata yang bisa Anda kunjungi di Taman Nasional Alas Purwo.

1. Pantai Plengkung atau G-Land

Pantai Plengkung yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan berlokasi di timur Teluk Grajagan begitu digemari para peselancar dan kebanyakan berasal dari luar negeri. Pantai Plengkung merupakan surga bagi peselancar profesional karena dikenal dengan pantai berombak besar. Ombak Plengkung berbentuk memanjang, tinggi, dan bergerak cepat. Ombak Pantai Plengkung juga membentuk tabung yang hampir sempurna sehingga menjadi favorit para pecinta olahraga selancar (surfing) dari Australia, Eropa, dan Amerika.

Para peselancar yang datang ke Plengkung sebagian besar berasal dari Bali menggunakan speed boat. Mereka menginap di camp di kawasan taman nasional ini. Joyo’s Surf Camp merupakan salah satu camp dari tiga camp yang ada di sini. Tidak aneh bila setiap hari melihat para tamu di penginapan selalu menenteng papan selancar. Sehari-hari kegiatan mereka hanya surfing.

Menurut Ivan Herminanto, pengelola Joyo’s Surf Camp, seluruh tamu berasal dari Bali yang datang menggunakan kapal cepat dan berlabuh di pantai depan camp. “Kami menawarkan paket wisata enam hari atau paket tiga hari,” kata Ivan.

Tarif kamar di Joyo’s Surf Camp per malam yakni untuk VIP (110 dollar AS), Superior (100 dollar AS), Deluxe (90 dollar AS), Standard (80 dollar AS) dan Budget (70 dollar AS). Bagi pelancong yang menggunakan mobil pribadi hanya diizinkan sampai Pos Pancur. Untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Plengkung wajib menggunakan angkutan khusus.

2. Sadengan

Sadengan merupakan padang savana seluas 84 hektar yang berada pada Taman Nasional Alas Purwo. Berada di Sadengan seakan-akan Anda seperti berada di Afrika. Sapi, banteng, rusa, sampai burung merak yang lagi bergerombol dan berkeliaran bebas di Sadengan.

Untuk memberi keleluasaan bagi para pengunjung di Sadengan didirikan menara pandang dari kayu dengan tiga lantai. Pengunjung bisa menaiki menara dan melihat kehidupan aneka satwa di alam bebas.

Bila Anda ingin memotret lebih dekat banteng atau rusa di alam liar tersebut yang lagi berjemur atau mencari rumput, mintalah bantuan kepada petugas untuk mengantarkan Anda memasuki padang savana.

3. Pura Gili Selaka
 
Di tengah-hutan Taman Nasional Alas Purwo terdapat Pura Gili Selaka. Pura ini sudah berdiri jauh sebelum ditetapkannya Alas Purwo sebagai Taman Nasional. Pura Gili Selaka ditemukan secara tidak sengaja oleh umat di sekitarnya pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan pembabatan terhadap di kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Masyarakat setempat mempercayai yang melinggih atau bertahta di Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali untuk menyebarkan Agama Hindu.  
4. Hutan Mangrove Bedul

Hutan Mangrove Bedul menyuguhkan pemandangan hutan mangrove di wilayah daerah hilir dari DAS Stail yang membentuk rawa air payau yang sering disebut kawasan Segara Anakan dengan tumbuhan mangrove yang masih alami.

Nama Bedul diambil dari nama ikan gabus yang memiliki sirip di punggungnya. Ikan Bedul banyak hidup di wilayah sekitar Segoro Anakan dan sering dijadikan lauk sehari-hari oleh masyarakat sekitar.  

Di Hutan Mangrove Bedul terdapat 27 jenis mangrove serta beberapa jenis burung seperti burung imigran australia, raja udang, elang laut dan beberepa jenis bangau. Luas hutan mangrove sekitar 1.200 hektar yang membentang sejauh 18 kilometer.

Image

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s