Berbekal IT, Banyuwangi Pacu Promosi Pariwisata

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengoptimalkan instrumen teknologi informasi (TI) untuk memacu promosi sektor pariwisata. Berbagai destinasi wisata menarik di daerah berjuluk “The Sunrise of Java” itu dipromosikan melalui berbagai strategi berbasis TI.

“Dengan teknologi, promosi jadi efisien dan efektif serta terukur. Kita manfaatkan tren social media, smartphone, dan website yang terintegrasi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas seusai mendapat penghargaan Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2014 di Jakarta, belum lama ini.

Banyuwangi sendiri baru meraih penghargaan sebagai juara pertama (the best champion) dalam ajang Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2014. Penghargaan diserahkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Kamis (8/5/2014) malam.

Banyuwangi menyabet IDSA 2014 untuk ajang overall society, melampaui kabupaten lainnya se-Indonesia. Indikator  penilaiannya adalah pemanfaatan teknologi digital untuk berbagai kegiatan di daerah tersebut. Survei untuk penghargaan ini dilakukan terhadap lembaga-lembaga dan masyarakat dengan melibatkan 19.000 responden di seluruh Indonesia.

Anas mengatakan, pihaknya telah meluncurkan pembuatan aplikasi promosi wisata berbasis Android. Melalui aplikasi tersebut, wisatawan akan dipandu untuk mengetahui detil tentang Banyuwangi, mulai dari destinasi, kondisi sosial-budaya, dan tempat-tempat penting seperti rumah sakit, tempat ibadah, dan hotel.

“Wisatawan akan tahu berapa kilometer lagi sampai di destinasi tujuannya. Saat ini kita sedang sempurnakan agar makin lengkap, termasuk akan kami integrasikan dengan hotel dan restoran,” ujar Anas.

Anas mengatakan, pendekatan promosi pariwisata harus selalu relevan dengan perilaku pasar. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara kelima terbesar pengguna telepon pintar (smartphone). Mengutip riset Yahoo! dan Mindshare, pengguna smartphone di Indonesia mencapai 41 juta pada pertengahan 2013 dan akan menjadi 103,7 juta pengguna dalam tiga tahun mendatang.

”Penetrasi penggunaan smartphone diprediksi akan terus naik, termasuk yang berbasis Android. Karena itu pula, kami meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android,” ujar Anas.

Menurut Anas, saat ini konsumen pariwisata meminta lebih. Mereka tidak hanya ingin datang ke obyek wisata alam maupun wisata budaya, namun juga sangat memperhatikan kenyamanan dalam memperoleh informasi. Salah satu sumber rujukan informasi utama adalah internet. Informasi itu tidak hanya dari satu sumber sepihak dari pengelola tempat wisata dan pemerintah daerah, tapi juga dari pihak lain seperti blogger maupun rekomendasi teman di Twitter dan Facebook.

Menurut Anas, pengembangan pariwisata berbasis TI sangat membantu promosi. Selain relatif lebih murah, strategi itu cukup efektif.

“Dana promosi wisata kami sangat minim, karena itu kami optimalkan teknologi. Ada android, kita juga pakai social media. Ada video wisata kami di Youtube yang sudah dilihat belasan ribu kali, ada kuis di Twitter, kami manfaatkan Path dan Instagram, ada pula kegiatan para blogger. Hasilnya tingkat kunjungan wisatawan naik 100 persen untuk turis asing 2013 lalu ada 10.462 orang, sedangkan turis lokal naik sekitar 23 persen menjadi 1.057.962 orang,” tambah Anas.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s