Berjalan Sukses, Wonua Mosehe Sedot Ribuan Pengunjung

Image

Ribuan pengunjung dari dalam dan luar kota Kolaka, Sulawesi Tenggara memadati kompleks makam Raja Mekongga di Kecamatan Wundulako, Selasa (20/5/2014). Sejak subuh mereka telah berada di makam Raja Sangia Nibandera, raja kedelapan dari Kerajaan Mekongga. Sangia Nibandera merupakan Raja Mekongga pertama yang memeluk Agama Islam pada tahun 1630.

Kedatangan para pengunjung yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa ini untuk melihat dan mengikuti secara langsung prosesi adat yang sangat sakral, yaitu prosesi adat Wonua Mosehe. Wonua Mosehe ini sebuah prosesi adat penyucian negeri dan penyucian pemimpin daerah. Sejumlah kegiatan adat dilakukan dalam prosesi tersebut. Yang pertama adalah penyucian diri.

Dalam proses ini Bupati dan Wakil Bupati Kolaka yang didampingi istri masing-masing diarak ke sebuah sungai kecil dalam kompleks makam raja untuk dimandikan oleh tetua adat Suku Mekongga. Nampak sejumlah bambu ukuran satu meter telah terisi air laut yang dicampur dengan air kelapa muda. Nantinya air tersebut akan disiramkan ke sekujur tubuh Bupati dan Wakil Bupati Kolaka beserta istri masing-masing sebagai tanda penyucian diri.

Proses penyiraman pun berjalan dengan khitmad. Ribuan pengunjung yang menyaksikan prosesi itu terdiam kaku sebagai tanda penghayatan proses penyucian sebab ritual semacam ini dinilai sangat sakral oleh masyarakat Kolaka khususnya Suku Mekongga. Usai melewati penyucian diri, bupati dan wakil bupati kembali ke gaseboh induk guna mengikuti acara ritual selanjutnya.

Di hadapan para tamu undangan yang datang dari sejumlah daerah maupun perwakilan dari persatuan kerajaan nusantara, Haminto Dahlan, yang ditunjuk untuk menceritakan sejarah Suku Mekongga mengatakan bahwa dengan digelarnya Wonua Mosehe atau penyucian negeri semoga seluruh penduduk Kolaka terhindar dari mara bahaya.

“Prosesi adat ini adalah penyucian negeri atau penyucian diri. Prosesi adat semacam ini ada sejak zaman nenek moyang kami dan terus dilestarkan hingga saat ini. Sangat banyak kegiatan yang dilakukan dalam prosesi adat Wonua Mosehe. Salah satunya tarian Lulo tujuh macam yang dilakukan selama tujuh hari. Penyembelihan kerbau putih sebagai hewan kurban, mandi dengan air asin dan ziarah ke makam Raja Mekongga. Intinya semoga kita semua akan terhindar dari mara bahaya atau tolak bala yang tentunya atas izin Allah SWT,” ucapnya, Selasa (20/5/2014).

Selang waktu berjalan, prosesi adat terus berlanjut. Tibalah saat penyembelihan kerbau putih yang telah disiapkan panitia adat sebagai hewan kurban. Ribuan pengunjung berupaya mendekati kerbau yang akan disembelih tersebut guna melihat lebih dekat. Semua pengunjung membisu saat prosesi itu berlangsung.

Tidak berhenti di prosesi penyembelihan kerbau putih, tetua adat kembali melanjutkan ritual menuju makam Raja Mekongga yaitu Raja Sangia Nibandera. Dalam makam tersebut Bupati didampingi sejumlah tokoh adat dan pejabat Kolaka terlihat memanjatkan doa kepada sanga pencipta untuk raja pemeluk Agama Islam pertama di tanah Kolaka.

Kepada Kompas Travel, Bupati Kolaka, Ahmad Safei merasa bersyukur sebab kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar. Bupati mengatakan sebenarnya Kolaka kaya akan budaya sehingga tidak salah jika Kolaka masuk dalam daftar destinasi wisata budaya bagi para pelancong di dunia. “Saya merasa bahagia dengan suksesnya prosesi adat Wonua Mosehe ini. Menandakan daerah kami kaya akan budaya dan tetap melestarikannya. Semoga hal ini dapat menarik wisatawan yang ada di dalam dan luar negeri,” katanya.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s