Menikmati Air Terjun Bertangga Empat Oenesu

MUSIM kemarau biasanya datang sekitar sebulan lagi atau sekitar Juni. Namun, faktanya, warga Kota Kupang dan sekitarnya di Nusa Tenggara Timur, sejak akhir April, mulai merasakan terik matahari timur. Warga pun mulai memburu tempat rekreasi yang mampu menghalau rasa gerah. Salah satu pilihannya adalah Oenesu, tempat rekreasi yang mengandalkan pemandangan air terjun bertangga empat.

Pada Minggu (27/4/2014) lalu, misalnya, ratusan warga tumpah ke Oenesu, sekitar 17 kilometer barat Kota Kupang. Mereka berkunjung secara perorangan atau berkelompok.

”Oenesu adalah tempat rekreasi paling tepat untuk menghalau rasa gerah yang belakangan mulai mengusik kenyamanan warga,” kata Yoris Parera (52).

Bersama sekitar 100 orang komunitasnya asal Penfui—tepi timur Kota Kupang—Yoris menikmati kesejukan Oenesu sejak pagi hingga petang. ”Kami semua kebetulan dari kepanitiaan acara yang baru saja berlalu. Kesempatan pembubarannya dengan rekreasi bersama di Oenesu,” sambung John Sajo, rekan Yoris.

Secara administratif, Oenesu masuk Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, di ujung barat Pulau Timor. Seperti daerah lain di NTT, Kupang rata-rata berwajah tandus dan gersang, terutama pada musim kemarau. Potret kawasannya bertambah seram akibat ulah warga yang suka membakar semak tanpa kepentingan.

Meskipun begitu, Kupang ternyata masih menyisakan kesejukan dan pemandangan hijau dari sejumlah lokasi, salah satunya dari deburan air terjun dalam kepungan berbagai jenis pohon rimbun dan terjaga di Oenesu.

Tempat rekreasi itu memang menyuguhkan sejumlah keistimewaan. Sejak lama dikenal sebagai sumber mata air berdebit tinggi serta air yang selalu bening dan terus mengalir sepanjang tahun. Debit air stabil hingga puncak kemarau.

Di sekitar daerah aliran sungai, tumbuh berbagai jenis pohon hutan endemik setempat. Beberapa jenis di antaranya mangga hutan, jambu air, dan aren. Semuanya seakan menjadi pengokoh dinding daerah aliran sungai.

Oenesu, baik ketika kemarau maupun musim hujan, selalu menyuguhkan panorama air terjun bertangga empat. Paduan desah, riak, dan deruan air terjun yang tak pernah putus seakan melengkapi kesejukan di Oenesu.

Apabila kawasan wisata itu agak sepi, bersama deruan air terjun juga terdengar jelas kicauan girang sejumlah burung dari ranting-ranting jambu air atau pohon lain yang sedang berbunga. Sekali-sekali terdengar kotekan ayam atau lolongan anjing dari perkampungan sekitar. Pepohonan yang lebat dan hijau terasa berperan menjadi penyaring berkas angin gerah menjadi angin sepoi yang mengantarkan kesejukan.

Terabaikan

Mengunjungi Oenesu dari Kota Kupang harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan karena belum ada angkutan umum yang melintas. Jika menggunakan mobil sewaan, tarifnya kini sekitar Rp 600.000 per hari. Pengunjung juga harus menyiapkan makangan ringan atau makanan berat secukupnya karena di sekitar Oenesu belum ada warung atau rumah makan.

Para pengunjung rata-rata beranggapan sama, Oenesu adalah tempat rekreasi berdaya tarik tinggi. Namun, potret kawasannya jelas menggambarkan sebagai tempat rekreasi yang terabaikan.

Sampah berserakan di sembarang tempat. Sejumlah bangunan peneduh berupa gazebo atau lopo rata-rata sudah keropos. Ada pula gazebo yang seng penutup atapnya sudah terbongkar dan lenyap entah ke mana.

Sebagian besar kawasan dipadati ilalang dan berbagai jenis rumput liar. Rerumputan liar tumbuh leluasa hingga mengepung sebagian gazebo karena memang lepas dari pembenahan seharusnya.

Selain itu, jaringan jalan menuju Oenesu, terutama sekitar 3 kilometer menjelang tempat rekrasi itu, kondisinya juga memprihatinkan. Badan jalan sempit, hampir pas-pasan hanya untuk satu kendaraan. Balutan aspal tipis, sebagian sudah terkelupas sehingga menyisakan badan jalan bopeng dan berlubang-lubang.

”Oenesu seharusnya dibenahi dan dikelola secara memadai karena merupakan tempat rekreasi berdaya tarik tinggi, setidaknya bagi warga Kota Kupang dan sekitarnya. Sayangnya, pemerintah kabupaten rupanya belum menempatkan Oenesu sebagai aset berharga. Contoh tegasnya adalah kondisi Oenesu yang dibiarkan terabaikan begitu saja,” kata Bonefasius Pukan, pengunjung.

Sebenarnya pengelolaan tempat rekreasi Oenesu sudah dilakukan sejak awal 1990-an. Di atas areal seluas sekitar 1,5 hektar sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti bangunan peneduh berupa sembilan lopo. Selain itu, Oenesu juga dilengkapi jalan setapak, tempat parkir, tempat MCK, dan bangunan ganti pakaian. Namun, semua itu kini lepas dari perawatan sehingga Oenesu lebih menjadi tempat rekreasi yang tidak terurus.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s