Wisata Legenda Batu Takup dan Kisah Sedih Poligami

MATAHARI terik menghujam kepala saat tiba di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, sebuah wilayah terkenal dengan penghasil lokan dan motto “Kampung Sakti Rantau Betuah”. Sebuah kabupaten di Bengkulu yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat. Dari Kota Bengkulu menuju kabupaten ini sekitar 281 kilometer. Untuk mencapainya bisa menggunakan jalur darat atau jalur udara dengan penerbangan perintis dari Bandara Fatmawati Kota Bengkulu.

Jika jalur darat Anda akan menyisiri pantai Bengkulu dengan segala keindahan dan perpaduan Bukit Barisan, komplet ada pantai dan hutan belantara. Jalur darat ditempuh dengan mobil sekitar lima jam dari Kota Bengkulu. Sementara jika menggunakan transportasi udara tentu lebih eksotis lagi, karena di atas Laut Bengkulu Anda akan menikmati manuver canggih para pilot.

Dari ibu kota Mukomuko perjalanan kami arahkan menuju Desa Talang Arah, Kecamatan Malin Deman. Perjalanan kali ini melihat sebuah obyek wisata batu yang jika dilihat kasat mata seperti batu bersambung, berhimpit, di daerah ini batu tersebut dikenal dengan “Batu Takup”.

Setelah perjalanan beberapa puluh menit melalui perkebunan kelapa sawit, tanah dan koral menghiasai sepanjang perjalanan, dan permukiman penduduk, tibalah kami di Desa Talang Arah. Suasana kampung menyambut tentu saja mencerahkan mata dan jiwa. Batu Takup dahulunya merupakan gugusan bukit tinggi. Batu ini adalah batu yang memiliki legenda dan pesan tersendiri bagi masyarakat setempat, pesan kesengsaraan dan penderitaan di balik tindakan poligami seorang suami.

Rosma (76) tetua kampung, warga Desa Talang Arah, bertutur, dahulu kala hiduplah seorang laki-laki yang memiliki dua orang istri. Istri pertama memiliki tiga anak, sementara istri muda tak dikaruniai anak. Namun, dalam perjalanan rumah tangga, sang suami lebih sayang dengan istri muda.

Rosma melanjutkan, akibat ketidakadilan itu istri tua merasa sakit hati atas perhatian lebih yang diberikan suami kepada istri muda. Akhirnya istri tua melarikan diri. Dalam pelariannya itu, istri tua menitipkan dua orang anaknya yang telah beranjak remaja. Sementara ia membawa anaknya yang masih menyusui menembus belantara dengan segala kepiluan hati.

Dalam petualangan yang penuh kepiluan itu istri tua menemukan batu besar yang datar. Di sana, dia beristirahat untuk menyusui anaknya. Usai menyusui anaknya, sang ibu pun berkata kepada anaknya. “Tinggallah di sini nak (di atas batu), ibu mau bunuh diri,” kata Rosma menceritakan kepada Kompas Travel.

Mengetahui istri tua meninggalkannya, sang suami berusaha mencari keberadaan istrinya itu. Rimba belantara juga ia tempuh hingga ia tiba di batu tersebut dan menemukan bayinya menangis di atas batu tersebut. Sang suami juga bingung saat istri tuanya tak ada di sana, ia hanya melihat batu datar dan bayinya yang tak kunjung berhenti menangis.

Namun alangkah terkejutnya saat dia berjalan sekitar lima meter dari batu datar tempat bayinya menangis, ia melihat bukit batu yang cukup besar seperti baru saja terbelah, sementara di celah belahan batu itu ia melihat beberapa helai rambut istrinya. Sang suami pun berusaha mencoba menarik sang istri namun gagal karena batu telah memeluk tubuh sang istri. ”Itu merupakan cerita yang diwariskan secara turun temurun imbas dari poligami,” kisah Rosma.

Di sekitar Batu Takup tersebut juga ditemukan banyak nisan yang ditengarai merupakan keturunan dari keluarga tersebut. Sayang kisah ini tak tercatat dengan baik, hanya sejarah bertutur. Sementara Bukit Batu Takup tersebut tak sebesar dahulu, karena saat ini telah dibelah menjadi menjadi dua bagian di tengah Bukit Batu Takup itu dibuat jalan. Namun, masih dapat terlihat sebagai bukti dan kisah sedih poligami.

Selain mendapatkan kisah legenda, pelancong dapat menikmati pemandangan yang cukup indah yakni hiasan bukit nan hijau bersatu dalam gugus Bukit Barisan. Salah satu perusahaan perkebunan membelah Batu Takup tersebut lalu di tengahnya dibuat jalan dari semen untuk pelancong yang kerap datang ke daerah itu.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s