Menikmati Sore hingga Malam di Belitung

PELESIR ke Belitung di Kepulauan Bangka Belitung identik dengan pantai berpasir putih yang halus dan laut tenang berair sejernih kristal berhias granit berukuran besar. Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang selalu masuk daftar tempat yang wajib dikunjungi setiap kali ke Belitung.

Memang tidak salah karena pantai-pantai yang dapat dicapai dengan 30 menit berkendara itu mendapat banyak promosi. Namun, melancong ke Belitung sebenarnya bisa menikmati tempat-tempat lain, selain pantai dan lautnya.

Setelah pelesiran ke pantai dan laut pagi hingga senja, menjelang dan selepas matahari terbenam hingga pagi hari, pelancong dapat pelesiran ke hutan. Lereng bukit (yang oleh penduduk setempat disebut gunung) Tajam adalah lokasi terdekat untuk wisata malam.

”Wisatawan bisa melihat monyet hantu atau Tarsius bancanus sp,” ujar Didi alias Madong, penggiat di Komunitas Pemuda Air Selumar, Kecamatan Sijuk, Belitung.

Jika hendak melihat hewan langka khas Kepulauan Bangka Belitung itu, pastikan hujan tidak turun pada siang hari. Sebab, monyet hantu yang juga disebut pelilean itu jarang keluar setelah hujan. Padahal, mereka hanya berburu pada malam hari.

”Berapa kali rombongan pelancong gagal melihat pelilean jika habis hujan,” ujar Agus Pahlevi, pemandu wisata.

Agus selalu menyampaikan kondisi itu kepada pelancong. Apabila mereka memutuskan tetap akan jalan-jalan di hutan untuk mencari pelilean, Agus yang kerap bekerja sama dengan Didi pun akan memandu.

Jika ingin melihat pelilean, pelancong harus sudah di tempat kumpul di Desa Air Selumar sebelum matahari terbenam. Sebab, waktu terbaik untuk mencari pelilean adalah pukul 18.00 hingga 20.30. ”Lewat dari itu, susah mencarinya,” ujar Didi.

Jika ingin menikmati suasana hutan sebelum mencari pelilean, ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Pelancong bisa mendirikan tenda atau menginap di kabin dalam hutan. Kabin berupa rumah panggung di tengah kerimbunan hutan bisa didapati di kawasan Batu Mentas, Kecamatan Badau, Belitung.

Pengelola kawasan itu, Budi Setiawan, mengatakan, tersedia paket wisata untuk dua hari satu malam di kawasan itu. ”Kami menyiapkan beberapa kabin untuk menginap. Kabin-kabin itu dirancang untuk benar-benar memisahkan pengunjung dari kehidupan kota,” ujar dia.

Listrik tetap tersedia walau dalam waktu sangat terbatas pada malam hari. Namun, sinyal telepon seluler amat sulit, tidak ada televisi dan radio, serta jauh dari permukiman.

”Kami menawarkan pengalaman lepas dari rutinitas kota. Kalau sekadar ingin menginap, bukan di sini tempatnya,” ujar Budi.

Pengunjung di kawasan itu diharapkan datang siang hari. Menjelang senja, pelancong bisa memilih berbagai kegiatan. Kalau sedang musim, bisa ikut memanen lada atau hasil bumi lain bersama petani setempat.

Kurang berminat dengan itu? Ada pilihan lain, yaitu mengemudikan sepeda motor trail di antara pohon sawit atau di dalam hutan. Apabila tak cakap mengemudikan sepeda motor trail di jalan berlumpur, pelancong bisa memilih menghanyutkan diri di sungai.

”Kami menyebutnya water tubing,” ujar Budi.

Pelancong bertumpu pada ban dalam bekas truk lalu mengapung di sungai. Air sungai yang jernih dengan arus pelan akan menghanyutkan pelancong. ”Ini kebalikan dari arung jeram walau sama-sama di sungai. Tidak ada pemicu adrenalin di sini karena yang ditawarkan adalah bersantai mengikuti arus air sambil melihat hutan dari sungai,” ujar Budi.

Kopi dan timah

Selepas berbasah-basah di sungai, kopi hangat dan ubi goreng siap menyambut pengunjung. Belitung memang terkenal dengan tradisi kopi. Kedai-kedai kopi di Belitung begitu tersohor. Bahkan, sejumlah kedai ada sejak beberapa dekade dan punya pelanggan yang sama dalam periode panjang.

Kedai kopi di Belitung tidak sekadar menjadi tempat menyeruput minuman panas. Di sana masyarakat dari berbagai lapisan bertemu dan bercengkerama. Banyak urusan, swasta ataupun pemerintahan, diselesaikan di antara tegukan kopi.

”Tamu-tamu saya justru senang nongkrong di kedai kopi seperti ini. Hampir semua orang di kedai saling mengenal. Tidak sibuk sendiri-sendiri seperti di kedai kopi kota besar,” ujar Agus.

Kedai kopi di Belitung memang sejak lama menjadi oase atau paling tidak tempat peristirahatan dan hiburan. Hal itu tidak lepas dari sejarah kedai yang berdiri bersamaan dengan penambangan timah di Belitung.

”Dulu, pekerja-pekerja tambang timah mampir ke kedai sebelum dan setelah kerja. Sebelum kerja, mereka mampir untuk sarapan. Selepas kerja, mereka mampir untuk melepas lelah sambil berbagi cerita dengan berbagai orang,” kata Agus.

Penambangan timah skala besar, NV Billiton Maatshcappij dan PN Timah, memang sudah lama berhenti. Namun, tradisi minum kopi di kedai tidak luntur dari Belitung. ”Sisa-sisa penambangan timah dalam skala besar sekarang menjadi salah satu alternatif wisata di Belitung,” ujar Agus. Jadi, banyak pilihan di Belitung.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s