Mengingat Bogor Tempo Dulu yang Manusiawi

LEBIH dari 100 foto tua dan baru dipamerkan melalui ”Catatan Sejarah Kota Bogor dalam Foto”, di Lantai 3 Bogor Trade Mall, Senin (23/6/2014).

Ada foto yang menerangkan Stasiun Bogor dibangun pada 1872. Pembangunan itu untuk mempercepat lalu lintas barang dan manusia antara Buitenzorg (Bogor) dan Batavia (Jakarta) menggunakan kereta api, yang sebelumnya bergantung pada kereta kuda.

Foto lain bercerita, di depan Stasiun Bogor pada 1910, dibangun Taman Wilhelmina atau Taman Kebon Kembang. Pada 1970, sebagian kawasan diubah menjadi terminal angkutan kota.

Namun, usia terminal tidak bertahan lama. Taman Wilhelmina diubah menjadi Taman Topi yang sampai kini terdiri atas Taman Ade Irma Suryani dan Plaza Kapten Muslihat.

Jadi, sebelum Terminal Taman Topi ditutup, pengunjung yang naik kereta dapat turun di Stasiun Bogor kemudian menyeberang dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan kota. Inilah bukti bahwa sebelum diubah menjadi Taman Topi, sistem angkutan umum di Kota Bogor pernah terintegrasi.

Apalagi, di luar gerbang Stasiun Bogor, saat Terminal Taman Topi masih ada, juga ramai deretan delman, becak, dan bemo. Pengunjung bebas memilih menikmati Bogor dengan pelbagai sarana transportasi.

Kendali banjir

Foto lain bercerita bahwa, jauh sebelum ada Kanal Barat dan Kanal Timur di Jakarta, ada Kanal Selatan di Bogor. Belanda membangun Kanal Selatan yang notabene adalah sodetan Ciliwung-Cisadane pada 1854.

Saluran itu dulu disebut Westerlokkan atau Kanal Barat Ciliwung. Alirannya dari Empang melalui Paledang, Jembatan Merah, Ciwaringin, Jalan Sumeru, dan Cimanggu Barat. Di tempat terakhir itu, kanal bercabang ke kiri menuju Cilebut dan ke kanan ke Jalan RE Martadinata dan Jalan Ahmad Yani dan masuk lagi ke Ciliwung.

Dari foto terungkap bahwa sejak dulu pun Belanda memikirkan bagaimana Ciliwung diatur agar limpahan airnya tidak membanjiri Ibu Kota (Batavia atau Jakarta), dengan membagi debit air ke Cisadane yang bermuara di Tangerang.

Nah, saat Jakarta banjir tahun ini, didengungkan kembali proyek sodetan Ciliwung-Cisadane. Lho, bukankah Belanda sudah mewariskan Kanal Selatan yang kini tak terurus itu?

Foto lain bercerita keberadaan Witte Pall (tugu) yang dibangun pada 1839 untuk peringatan kembalinya Buitenzorg dari penguasaan Inggris ke Belanda.

Tugu itu dulunya berlambang Kerajaan Belanda dan berfungsi sebagai titik triangulasi primer. Penanda koordinat letak ketinggian Bogor dari permukaan air laut. Nah, koordinat itu diperlukan bagi pembuatan peta topografi yang mencakup lahan di Pulau Jawa.

Tugu itu dihancurkan pejuang Indonesia pada 1958. Senasib dengannya adalah kuburan Belanda (memento mori) yang kini menjadi Terminal Merdeka, Pasar Kebon Jahe, dan Pusat Grosir Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui, foto-foto yang dipamerkan amat penting untuk membuktikan sejarah Kota Bogor dalam perjalanan Republik Indonesia.

Sayang, kemauan untuk merekam perjalanan sejarah dalam dokumentasi tulisan dan foto masih lemah. ”Budaya kita itu kuat dalam penuturan, bukan dokumentasi, sehingga masa lalu mudah dilupakan,” katanya.

Pameran juga menunjukkan masih banyak bangunan bersejarah yang tersisa dan terpelihara sehingga patut dijaga. Lihatlah, pada masa lalu, Kota Bogor dinamai Buitenzorg karena tidak ada masalah atau sangat nyaman dan manusiawi.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s