Solo, Inspirasi Kota Kreatif untuk Semua

LUCIA Caritas terkejut ketika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mampir di bilik siaran radionya yang sempit. Di bilik lusuh berdinding kaca dan kayu itu, Mari duduk di bangku dan menjawab pertanyaan kritis yang diajukan Lucia.

Jawaban Mari itu langsung mengudara sekaligus menyapa para pedagang Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Senin (23/6/2014). ”Kabarnya motif batik kita ada lagi, lho, Bu yang diklaim negara tetangga?” tanya Lucia di balik sukacitanya siaran bersama menteri.

Mari segera menepis soal isu tersebut. Jika itu terjadi, pemerintah siap mempertahankan kekayaan bangsa ini.

Penyiar dari Gapura Klewer, sebuah media informasi dan promosi bisnis bagi pedagang Pasar Klewer, itu pun menegaskan, para perajin dan mereka yang bergerak di bidang industri batik Nusantara berharap bisa memegang janji pemerintah.

Di luar bilik, pengurus pasar, pedagang, dan aparat Pemerintah Kota Solo mungkin merasa lega mendengar kata-kata menteri. Maklum, kota ini amat menggantungkan hidupnya pada industri kreatif, khususnya batik, karena minimnya sumber daya alam.

Indonesia memiliki banyak warisan budaya dalam bentuk fisik dan juga nonfisik. Batik hanyalah salah satu dari warisan nonfisik. Bayangkan jika warisan budaya itu dikelola dengan baik dan terus berinovasi untuk memberikan nilai tambah pada yang telah ada tersebut.

”Di tiap kota atau daerah punya kekuatan yang menjadi ciri khas dan ini bisa jadi potensi besar untuk mengembangkan kota kreatif,” kata Mari.

Solo menjadi salah satu dari sedikit kota di Indonesia yang menyambut hangat dan sigap berbenah saat ekonomi kreatif, industri kreatif, dan kota kreatif mulai dikembangkan di negeri ini sekitar 7-10 tahun silam.

Menjadi kota kreatif dunia tidak sekadar harus memiliki ikon produk ekonomi kreatif, tetapi ini terkait juga dengan bagaimana membangun sebuah kota yang humanistis dan mampu mewadahi kegiatan kreativitas warganya.

Dalam kunjungan pada Minggu (22/6/2014) dan Senin (23/6/2014), Mari berkesempatan melihat langsung pusat ekonomi kreatif yang telah mengembangkan berbagai karya kreatif. Dengan demikian, hal itu bisa memperoleh nilai tambah tinggi serta mampu menembus pasar global.

Mari melihat karya fashion batik yang ditampilkan pada pergelaran Solo Batik Carnival (SBC), berkunjung ke Pasar Klewer, Batik Keris, Sanggar Seni Semarak Candrakirana, dan berdialog dengan sedikitnya 10 pengelola sanggar seni kriya, karawitan, dan tari di Solo dan sekitarnya. Mari juga bertandang ke Studio Bambu Rempah Rumah Karya.

Wisatawan berdatangan

Menurut Menpar dan EK, dalam keadaan perekonomian dunia yang melamban dan langkah diversifikasi dari ekonomi yang berbasis komoditas dan industri olahan padat karya, industri kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing berbasis orang kreatif. Hal itu tecermin dari pertumbuhan ekonomi kreatif secara rata-rata di tahun 2013 yang mencapai 5,78 persen atau sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan nasional 5,76 persen.

Wali Kota Solo FX Rudyatmo dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo Eni Tyasni Susana membenarkan pendapat Mari. Menurut Eni, sejak Solo secara tegas dikelola menjadi kota kreatif, jumlah wisatawan terus melonjak. Sebagai gambaran, pada 2007, misalnya, wisatawan Nusantara dan mancanegara yang menginap di Kota Solo sebanyak 930.316 orang. Tahun 2008, saat penyelenggaraan SBC pertama kalinya, jumlah wisatawan menjadi 986.582 orang.

Hotel berbintang yang pada 2009 hanya ada 10 hotel kini sudah menjadi 34 hotel. Jumlah wisatawan yang menginap di akomodasi komersial tumbuh 38 persen pada 2013 (1.480.136 orang) dibandingkan dengan tahun 2010 (942.541 orang). Realisasi penerimaan pajak hotel dan restoran Kota Surakarta meningkat tajam dari Rp 16.295.920.000 tahun 2009 menjadi Rp 38.200.000.000 pada 2013.

Mari menimpali, penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa adalah pasar lokal yang tidak main-main. ”Ini adalah potensi yang tidak dimiliki Singapura ataupun Malaysia. Jika digarap serius, wisatawan Nusantara adalah pasar yang amat potensial. Terbukti bahwa perputaran uang dari aktivitas wisatawan Nusantara ini juga amat besar,” katanya.

Demikian juga di Pasar Klewer, hampir 90 persen konsumennya adalah orang lokal.

Efek ganda

Industri kreatif yang jadi pendukung utama terealisasinya sebuah kota kreatif terbukti jadi sektor informal yang menyediakan lapangan kerja yang banyak dan nyaris tak terbatas. Hal itu terbukti saat Mari mengunjungi pabrik dan Kantor Pusat Batik Keris di kawasan Cemani, Sukoharjo, Jateng.

Pemilik sekaligus Direktur Utama Batik Keris Handianto Tjokrosaputro mengatakan, industri yang dirintis sejak masa kakeknya pada 1920-an itu kini telah memiliki 118 gerai di seluruh Indonesia, termasuk toko dan Keris Gallery.

Ada sekitar 3.000 karyawan yang bekerja di Batik Keris. Bisnis ini mengandalkan 431 industri kecil dan menengah yang tersebar di sekitar Solo, Yogyakarta, Madura, Pekalongan, Jepara, Bandung, Bali, dan Lombok. Jika tiap satu industri kecil punya sedikitnya lima karyawan, sudah lebih dari 2.000 orang turut bekerja dan berbagi rezeki hanya di Batik Keris.

Padahal, di Solo ada banyak industri batik besar, kelas menengah, dan kecil. Multiplier effect ini yang bisa membangkitkan ekonomi kota dan kehidupan masyarakatnya.

Kusumaningdyah Nurul Handayani, dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Sebelas Maret dan juga aktif di Solo Creative City Network, mengingatkan, semua bidang ilmu dan seni juga sumber daya alam bisa dikelola menjadi industri kreatif. Jadi tidak terbatas pada hal yang terkait dengan batik saja.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s