Puru Kambera dalam Mimpi Masyarakat Waingapu

SUMBA memang indah. Tak hanya padang sabana dengan gerombolan ternak di hamparan rerumputan kering kecoklatan yang menawan, namun pulau itu dihiasi hamparan pantai pasir putih berkilau dengan kondisi air laut yang jernih pula. Pada bibir pantai tumbuh pohon cemara yang berjajar rapi bagai karya tangan manusia, seperti di Pantai Puru Kambera, 25 kilometer arah timur Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, NTT.

Pantai di Desa Hambapraing, Kecamatan Knatang, itu masih perawan. Hanya tampak tiga kapling tanah dengan tegakan batu karang yang tersusun setinggi 2 meter dari bibir pantai menuju sekitar 200 meter ke darat. Kapling tanah itu milik pengusaha dari Denpasar, Bali, untuk pembangunan pusat pemondokan di bibir pantai.

”Tanah ini dijual oleh pemilik kepada pengusaha dari luar. Ukuran satu kapling tanah sekitar 50 meter x 200 meter atau
1 hektar,” ungkap Tony Njuru Kamba, warga Desa Hambapraing, pekan lalu.

Waingapu-Puru Kambera bisa ditempuh dalam 25 menit dengan kendaraan roda empat. Setiap hari libur, Sabtu atau Minggu, ratusan warga Waingapu melepas lelah di pantai itu. Mereka tidur, bermain, dan melakukan aktivitas lain di bawah bayangan pohon cemara.

Hamparan pohon cemara itu tumbuh dan berkembang begitu teratur bagai ditata manusia, membentang sepanjang bibir pantai, sekitar 10 km, dengan lebar ke darat hanya sekitar 50 meter. Namun, sesungguhnya pohon cemara yang berusia 1 tahun hingga 20 tahun itu tumbuh secara alamiah.

Ketika angin laut atau angin darat berembus di area pantai, yang terdengar adalah bunyi gemuruh perlahan di udara, menerpa tubuh yang sedang kepanasan. Tubuh pun terasa dingin dan sejuk seketika.

”Warga sering datang membawa tikar. Siang hari, mereka tidur di bawah rerimbunan pohon itu setelah lelah mandi dan makan. Bahkan, ada pengunjung yang sempat mimpi indah di pantai ini, seperti berada dalam istana atau di lokasi yang istimewa,” kata Kamba.

Pantai Puru Kambera terasa terindah di Sumba Timur. Hamparan pasir putih berkilau sepanjang sekitar 5 km membentang di bibir pantai dengan air laut yang jernih membiru.

Ketika mendekati pantai itu, tepatnya dari Bukit Puru, sekitar 2 km, tampak hamparan pasir putih yang memesona mata. Hati pun seakan melonjak kegirangan menyaksikan air laut nan jernih, yang bergelombang kecil memecah di bibir pantai.

Tak ada penduduk di sekitar pantai. Aktivitas nelayan pun sangat jarang, menandakan pantai itu benar-benar bebas dari perilaku kotor manusia.

Hanya tampak beberapa elang beterbangan di pesisir, sebentar hinggap di puncak pohon cemara, kemudian terbang mengikuti buih ombak di tepi pantai, mencari makanan. Keheningan pantai itu membunuh semua perasaan ingar-bingar tinggal di perkotaan.

Belum dikelola

Puru Kambera belum dikelola oleh pemerintah daerah atau pengusaha. Namun, pengaplingan tanah di pesisir itu sudah dilakukan. Menurut warga setempat, pengembang akan mulai mengelola pantai itu tahun 2016 setelah mendapatkan restu dari masyarakat sekitar.

Pengunjung yang datang ke pantai itu pun belum sebanyak di Pantai Londo Empat atau Pantai Londo Lima, sekitar 5 km dari Waingapu. Di kedua pantai yang sudah dikelola itu, setiap hari libur, sekitar 200 orang datang dengan berbagai kepentingan.

Namun, pengunjung datang ke Pantai Londo Empat dan Londo Lima terutama karena jaraknya yang dekat dari Waingapu. Meski demikian, harus diakui, pemandangan kedua pantai ini tak seindah Puru Kambera. Kedua pantai tidak memiliki pasir putih nan berkilau. Air lautnya keruh dan ditumbuhi bakau diselingi pohon asam dan kesambi.

Pantai Londo Lima dikelola oleh Pemkab Sumba Timur. Pantai Londo Empat dibiarkan terbuka. Karcis masuk ke pantai itu Rp 5.000 per orang, ditambah biaya parkir kendaraan roda empat Rp 10.000 atau roda dua Rp 3.000 per unit. Di kawasan pantai dengan luas sekitar 1.000 meter persegi itu sudah disiapkan air bersih dan toilet oleh pengelola. Namun, pengunjung lebih banyak ke Pantai Londo Empat yang masih bebas dimasuki. Pengunjung cenderung tak peduli, biaya masuk itu sebenarnya untuk pengembangan obyek wisata tersebut.

Pada pintu masuk kawasan Pantai Londo Lima terdapat tiga rumah penduduk dengan dua kios di sampingnya. Di kios itu disediakan air minum dan makanan ringan. Di lokasi Londo Lima terdapat pula air bersih dan kamar mandi bagi pengunjung pantai, tetapi tidak ada rumah penginapan.

John Tanga Hama (45), penjaga retribusi di Pantai Londo Lima, mengatakan, pengunjung saat ini masih bebas menentukan pilihan, masuk ke obyek wisata pantai yang mana. Namun, suatu ketika nanti, semua bibir pantai yang indah dan memiliki daya tarik pengunjung akan dikelola oleh pengusaha.

”Sebagian pesisir pantai di Sumba sudah dikuasai pengusaha dari luar. Misalnya, Pantai Rua di Sumba Barat saat ini dikelola oleh warga Amerika Serikat (AS). Sekitar 40 hektar kawasan pantai itu dikuasainya. Sementara sejumlah pantai di wilayah Lamboya dan sekitarnya di Sumba Barat juga sudah dikuasai pengusaha dari Jakarta,” kata Tanga Hama.

Sebagian besar pantai di Sumba menyimpan keindahan dengan hamparan pasir putih dan sejumlah keunikan. Pantai Ratunggare di Umbu Ngedho, Kecamatan Bondokodi, dan Pantai Kita di Kabupaten Sumba Barat Daya juga tidak kalah menariknya dibandingkan Puru Kambera. Pantai Ratunggare yang bersebelahan dengan Lapangan Pasolla Sumba sudah dikontrak pengusaha asal AS, tetapi belum dibangun.

Sekitar 100 meter ke arah barat dari pantai itu terdapat deretan rumah adat khas Sumba dengan kubur batu yang mengelilingi rumah adat itu. Kubur batu itu milik raja dan leluhur masyarakat Umbu Ngedho. Menjelang pergelaran Pasolla, kubur batu dan rumah adat itu didatangi dan dijadikan tempat menggelar upacara sebelum peserta turun ke gelanggang pertandingan.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s